Seirock-ya Ramen Jakarta : (literally) chicken soup for the soul

Standard

Satu-satunya hal yang amat saya syukuri dari lokasi tempat kos saya adalah keberadaan kedai mie Jepang yang satu ini: Seirock-ya Ramen.

Gak lebay, tapi kenyataannya memang begitu.

Bukan cuma karena lokasinya yang amat sangat strategis dari tempat kos (tiga kali koprol sampe) tapi kedai ramen ini adalah kedai yang nyajiin ramen TANPA babi. Yup! Benar saudara-saudari sebangsa setanah air, No Pork Ramen adalah tagline yang diusung gede-gedean sama kedai ini, bahkan dari sejak kedai ini masih dalam tahap disaining. Eye catchy banget logo kedainya yang berupa ayam jago itu, dipajang dengan tagline No Pork Ramen. Mangkanya, dari sejak ini kedai masih bangun dapur, saya udah wanti-wanti ke suami, “pokoknya, begitu buka, kita makan situ yaaa!!” Ditungguin dari bulan puasa sampe kelar lebaran, belom juga ni kedai buka. Tapi penantian penuh kesabaran itu memang selalu membuahkan keindahannya (iyaaa, klo ini sih lebay).

Cuma, ternyata gak langsung saat soft opening saya bisa hadir di kedai itu memenuhi undangan saliva😋 maklumlah yaaa, pulang kantor udah malem, yang menggoda napsu ngehajar emosi tuh ya nasi segunung plus dendeng berkuah ato gulai kikil gituuuu (there how i gained my 3kilos in a month😂😂)

Dua minggu setelah opening, kami iseng pengin coba. Guess what? We were the only guests there😃

Pas masuk, suasana yang langsung nyambut adalah calming ala Jepang (sok kayak udah pernah aje ke Jepun non). Disain kedai ini dominasi kayu coklat, abu semen, dan pencahayaan yang keemasan di dindingnya. Lampu atas sih tetep cerah. Konsep kedainya, semi open kitchen, jd chef dan tamu bisa saling intip klo keabisan gaya. Pelayannya cukup banyak untuk kedai ukuran sedang dan dipilih yang kurus, manis, lincah. Lagu yang dipilih untuk menemani juga klasik Jepang model Kitaro gitu.

Eniwei, skip the detail, let’s see the menu.

😮

Jujur saya bingung liat menunya. Gak familiar. Memang ditampilin foto juga sih, tapi semua nampak sama. Kuahnya keruh dan terlihat mirip susu. Bolak balik buku menu berlembar 4 kok kayaknya makin terlihat bodoh disaksikan 10 pasang mata pelayan dan chef yang mengintip dari balik dapur. Alhasil setelah nyerah, manggil pelayan dan diskusi panjang, dipilih deh Toripaitan Shoyu Ramen (untuk suami) dan Toripaitan Miso Ramen (buat saya). Minumnya ocha dingin tanpa es 😀

Gak tunggu lama (secara cuma kami berdua tamunya yee) datanglah pesanan kami.

Oke. Here’s the truth. Dalam hidup saya, makan ramen itu cuma di dua kedai: daiji (di bogor) dan sanpachi. Pernah sekali makan di kelapa gading, tapi lupa nama kedainya, dan ragu banget itu halal apa kagak 😅 Jadi bisa dibilang kalo saya gak expert-expert amat sama rasa ramen.

Yang hadir dihadapan kami adalah satu mangkuk (kecuali boleh bilang panci siiih) ramen dengan kuah kental keruh mengepul dihiasi sepotong chasu ayam, sejumput sayur hijau, daun bawang, selembar nori, sejumput rebung dan sebutir telur puyuh. Itu template sajian orisinil disini. Menarik ya.

Namun, perlu adaptasi yang cukup panjang bagi saya untuk menerjang sumpit diantara juntai ramen, yang membuat aroma kuah menguar ke angkasa raya. Why? Karena setiap terjangan itu menguarkan aroma semacam aroma telur rebus. Semi amis kali ya.

Toripaitan miso ramen yang saya pesan, ternyata terlalu gurih dan kental di lidah saya. Sementara pesanan suami terasa lebih ‘light’ dan menyenangkan.

Keberadaan sayur hijau dan rebung membantu saya menandaskan kuah kental itu. Nampaknya, berbeda dari bayangan saya tentang ramen miso yang biasa saya pesan.

Wah, kenapa ceritanya jadi bertolakbelakang sama kesan yang disampein di awal ya?

Tunggu dulu.

Saya bukan tipe yang berenti penasaran kalo kaitannya sama makanan. Jadilah, selang sebulan, nyerah juga sama rasa penasaran akan racikan kuah ramen itu, kami kembali datang untuk kedua kalinya.

Saat itu tamunya sudah bertambah, dan karena lokasinya mungkin banyak expat jepang korea, makanya tamunya juga ada yang jepang & korea. Yah, yang punya kost an saya pun bersuami Jepang, dengan mayoritas okupansi dari tanah kelahirannya.

Kali ini pesanan saya jatuh ke Toripaitan Shoyu Pedas sementara suami tetap yang orisinil.

Saat pesanan saya datang, sempat saya kira salah, karena bayangan saya, kuahnya sudah merah meronakan minyak cabai. Tapi yang datang, ramen yang template penyajiannya sama persis dengan yang sebelumnya. Sempet mau protes, tapi ternyata setelah ditilik, ada gumpalan merah sebesar 1/2 scoop es krim diantara topping ramen itu.

Ooh, ternyata pasta cabenya tidak langsung dicampur dalam kuah, tapi pelanggan diberi kebebasan meracik level pedas yang bisa dinikmatinya. Kalo masih kurang pedas, monggo segentong juga boleh kok kalo sanggup mah.

Sebelum mencampur pasta cabenya, saya seruput kuah toripaitan shoyu itu. Hmmm, kali ini saya mulai membiarkan lidah saya meresap semua rasa yang ditawarkan, tanpa melawan atau menghakimi. Completely enjoying every single sruputan. So creamy dengan rasanya yang penuh (definisi rasa macam apa ini??), seperti semua bintil lidah dibangunkan untuk mencecap aneka rasa yang hadir menyelimutinya. Dielus lembut, diselimuti dengan rapi sampai menyerap ke dalam. Memang ada sekilas aroma telur atau amis, tapi lambat laun berubah menjadi wangi kaldu ayam yang intens. Seperti berkubang dalam kaldu ayam yang kental.

Dan saat mencampurkan pasta cabenya, mendadak bintil lidah saya dikagetkan dengan tarian liar yang membangunkan. Seakan, yang tadinya lidah ini dininabobokkan dengan belaian kaldu yang creamy, dibangunkan untuk mengikuti liukan liar yang penuh tantangan. Rasa pedas yang terindera memang tidak seganas ulekan 15 cabe rawit gadingoranye yang cihuy mampus itu, tapi cukup menendang dan membuat lidah berdansa dansi.

Dan saya pun ikut berdansa puas telah menemukan kecintaan di kedai ramen ini. Mungkin ini yang disebut chicken soup for the soul, karena menyeruput kuahnya, bikin kita bahagia seketika😊😊

Tapi ramen disini gak cuma kuahnya yang bikin happy. Toppingnya juga menyenangkan. Setiap ramen orisinil pasti sudah termasuk chasu ayam, telur puyuh, rebung, sayur hijau, nori dan bawang daun.

Paling enak rebung dan sayur hijaunya, kres kres menyegarkan, disela penuhnya rasa yang ditawarkan si kuah, menjadi selingan mengasyikkan. Ramennya, keriting kenyal sempurna, membuat kuah nempel di tiap juntaiannya. Hmmm…. a sluuurp is never enough lah.

Mungkin sudah genap 10 kali saya mampir ke kedai ini, dalam 2 bulan terakhir dan memesan hampir menu yang sama: Toripaitan Shoyu Pedas, tanpa telur puyuh, dibanyakin rebungnya.

Eh, tapi sebenernya yang hits disini itu adalah Toripaitan ekstrim ramen. Beeuuh. Dengernya aja udah jiper. Ekstrim apa tuh.

Well, jadi begini, ini kedai ramen kan udah bilang dari depan pintunya, masang gede-gede tagline NO-PORK RAMEN, well indeed. Instead of menggunakan tulang belulang babi yang direbus sekian jam buat kuahnya, Toripaitan menggunakan tulang, sayap, dan entah bagian apalagi dari ayam. Direbus berjam-jam sampe kental seperti susu. Mungkin ada teknik tertentu yang beda-beda dalam membuat Toripaitan ini ya, saya juga gak paham.

Eniwei, ekstrim yang dimaksud di kedai ini, bukanlah ekstrim cabe ato pedes. Tapi, ekstrim kolagen yang dihasilkan dari rebusan tulang, sayap ayam. Katanya sih, kolagen ini dipuja perempuan karena bisa bikin kulit kinclong awet muda. Hmmm, minum rebusan tulang ayam aje yee klo gitu.

Nah, di kedai ini Toripaitan ekstrim hadir dengan ekstra topping bawang goreng dan seiiris lemon disajikan di pinggir mangkuk.

Pertama kali pesen ini menu, tidak terlihat bedanya, kecuali agak lebih keruh dan berminyak. Diseuseup sedikit tanpa perasan lemon, menurut saya, kuahnya lebih berat dan oily. Sedikit manis dari bawang goreng hadir menyelingi. Namun, saat dikucuri lemon, rasanya langsung ceria. Ada semriwing segar disela juntai ramennya. Ramennya juga tidak sekeriting dan sekecil yang biasa. Agak lebih lurus, mungkin baru diblow 😄

Menarik rasanya. Mungkin akan jadi pilihan kedua setelah Toripaitan Shoyu Pedas (teteeeuup)

Oiya, disini juga disediakan ramen dengan kuah bening, maupun ramen yang makannya terpisah antara ramen dan kuahnya disebut tsukumen. Mau nasi? Adaaa, pilihan donburi dan curry nya lumayan. Walau belum pernah coba 😁

Cemilan wajib gyoza juga adaaa. Pilihannya ayam, udang dan pedas. Saya sih suka pesan yang ayam aja, walau udang lebih enak. Maklum, yang ayam lebih murahhh😆  (kan anak kooosss). Gyoza panggang dicelup cuka, hmmm enyak. 29ribu isi 6.

Untuk harga seporsi ramen antara 42-58 ribu klo tidak salah. Saya cuma ingat harga favorit saya, 47rebu 😜

Pokoknya, standar berdua sama suami dengan menu Toripaitan Shoyu Pedas dan Ocha yang bisa refill, merogoh 125ribu rupiah. Lumayaaan, jatah abis gajian, nongkrongnya dimari, hihihi. Ato setelah dapet rejeki sampingan.

Apapun alesannya, adaa aja kok buat bikin saya mampir lagi dan lagi kemari, demi semangkuk ramen ini.

SeirockYa Ramen

Sayangnya, sampe detik saya nulis dongeng sebelum tidur ini, ntu kedai belom juga nyediain mesin edc, jadi agak rempong ya ceu rogoh-rogoh dompet nyari recehaaan😁

So, mau nyobain ramen tak berbabi? Monggooo kemari, ke Seirock-ya Ramen Jakarta, di bilangan Radio Dalam. Gampang nyarinya. Klo anak bengkel, pasti tau Nawilis kan? Nah, dari Nawilis ke arah Pondok Indah, lewati 5asec, grup ruko sampingnya, muncullah si ayam jago itu.

Met icip-icip dan pulang bahagia ya. Boleh juga kok sekalian ajak saya ya. 2 menit jalan kaki dari kos saya langsung hadir manis disana, tapi Traktir yaaaa 😆😆😆

cheers!!

update per Januari 2016:

Jadi, ternyata selain di Radio Dalam, Seirock-ya Ramen juga udah buka cabang kedua di Ramen Village Aeon Mall dan cabang ketiga di Grand Sahid Jaya Sudirman. Hmm, jadi lebih banyak pilihan tempatnya kan? Apalagi buat yang kantornya di Sudirman, pas lagi ngidam ramen tapi gak mau ke mall, bisa cus maksi di Seirock-ya.

Daaan, kabar yang lebih bae lagi, sudah tersedia mesin EDC untuk transaksi dengan debit BCA. Syenangnya saya, gak rempong lagi nyari ATM terdekat untuk nyobain semangkuk shoyu ramen, sepiring gyoza panggang dan segelas ocha dingin, hyooossshh!!

Jadi, maksi ramen kita? Hyuuukkk😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s