Pondok Mina, Karangasem – Kuliner Gurame yang Nonjok Tenanan di Timur Bali

Standard

Berhubung saya didaulat sebagai EO liburan keluarga ke Bali beberapa waktu lampau, browsing tempat makan adalah salah satu tugas harian saya menjelang liburan. Kalau daerah tujuannya Kuta, Legian, bahkan Ubud sekalipun, mungkin bukan tugas sulit mencari tempat makan enak, dan so pasti HALALAN TOYYIBAN ya bow. Lalu bagaimana nasib kalau daerah tujuan wisata itu adalah Karangasem? Daerah yang kalau dilihat di peta aja kok kayaknya, antah berantah gitu ya?

E tapi jangan salah, ternyata setelah browsing sana sini, banyak juga loh referensi makanan halal di Karangasem. Dan salah satu yang selalu disebut adalah Pondok Mina.

Awalnya, saya agak sangsi apakah pengantar tamu kami mengetahui letak rumah makan yang satu ini. Namun ternyata, saat saya bertanya, dimana rumah makan halal yang enak di Karangasem, Pak Widi tanpa ragu menyebut nama restoran yang satu ini. Legalah saya. Apalagi, Pak Widi menyebut bahwa restoran ini memiliki menu masakan gurame yang mantap.

Tak harus menunggu lama, karena jarak rumah makan ini dari Taman Ujung Soekasada ternyata hanya sekitar 20 menitan (tergantung ketangkasan supir menghandle truk-truk pengangkut pasir/batu lawan main di jalan sih sebenarnya), kami tiba di tempat yang dimaksud. Pondoknya sederhana, bahkan tanda penunjuk restoran ini pun sederhana. Parkirannya sendiri mungkin hanya cukup untuk maksimal 10 kendaraan dempetan. Pondokan makan ini terdiri dari dua bagian, dua gazebo besar di atas kolam-kolam ikan dan sekitar 2 ruangan besar di bagian belakang yang terdiri dari puluhan meja dan kursi. Menipu juga tampilannya dari depan😀

signage Pondok Mina sumber: http://wisatakuliner.com

signage Pondok Mina
sumber poto: http://wisatakuliner.com

Kesederhanaan tidak berhenti disitu. Daftar menu pun hanya terdiri dari selembar karton tebal berlapis plastik yang isinya mungkin hanya sekitar 10 jenis masakan dan 5 jenis minuman. Sayur? Tidak ada menunya disini, hanya masakan berbahan dasar ikan gurame dan udang, serta nasi putih. Minuman pun tidak ada yang macem-macem seperti es teler atau es campur, hanya teh (manis/tawar) atau jeruk (panas/dingin), atau minuman botolan pokoknya sederhana POLL lah judulnya.

Saya memesankan gurame goreng 2 porsi dan gurame pepes 1 porsi untuk makan siang keluarga besar dengan 12 mulut yang harus disuapi. Tentunya ditemani dengan nasi putih.

Oiya, satu lagi, TIDAK dicantumkan harga makanan di karton menu itu. Ini menimbulkan dilema kan? Yang jelas, gak tenang deh nebak-nebak harganya. Walau saya sudah sempat dapat bocoran harga lewat review di internet, tapi tetep aja kaann???

Nunggunya emang agak lama, mungkin kurang lebih 20 menitan lah ya. Dan biarpun Pondoknya terkesan sederhana, tapi percayalah, PEMANDANGANNYA GAK SEDERHANAAA!!! Letak restoran ini di pinggiran bukit yang menghadap ke teluk. Jadi gak bakal bosen deh menikmati laut nun jauh di sela teluk sana. So over-calming.

Dan bagaimana dengan penantian si gurame? I know, it was a long time to wait, BUT it was…. SUPER WORTHED!!!

Seriusan deh, itu gurame goreng yang datang, masih puanaaas buener, ukurannya besar, bisa untuk 4 orang, dagingnya pun tebal. Tapi biar besar dan tebal, keunggulan gurame goreng di Pondok Mina ini adalah lapisan luar ikan tergoreng garing kemeripik, tapi dagingnya msh lembab. Rasa dagingnya manis, tidak amis atau bau lumpur. Lalu bumbunya menyerap sampai ke tulang-tulang ikannya (percayalah, saya si pengeruk sampah ikan ini terpuaskan pokoknya) dan sirip-siripnya bisa dikramusin layaknya krupuk😀

menu: gurame goreng sumber poto: http://wisatakuliner.com

menu: gurame goreng
sumber poto: http://wisatakuliner.com

Untuk pepes guramenya, gak kalah spektakulernya lah. Bumbunya paaas bener. Pedes pedes gurih, dengan rasa alami daging ikannya yang masih terkecap sempurna. Hmm…
Mengingatnya malah bikin saya pengen ke Bali lagi, khusus ke Pondok ini.

menu: gurame pepes sumber poto: http://wisatakuliner.com

menu: gurame pepes
sumber poto: http://wisatakuliner.com

Oiya, kalo tadi saya sempat bilang di menu tidak dicantumkan masakan sayur, tak usah kecewa, karena setiap hidangan gurame datang dengan side dish berupa rebusan kangkung dan toge yang disiram sambal terasi, lalu tak lupa kacang tanah goreng garing. Namanya plecing kangkung. Seperti masakan Lombok ya? Namanya juga tetanggaan sih.
Dan seporsi nasi putihnya….. buanyaaak buanget😀 super kenyang lah yaa

Lalu, setelah semua hidangan tertandaskan hingga ludes des des, the moment of truth is here to reveal. Berapa yang harus kami bayar untuk: 2 gurame goreng, 1 gurame pepes, 11 nasi putih, 4 teh manis panas, 2 aqua 600ml, 2 teh tawar, 1 kopi hitam, 2 krupuk? Rp223.000,00 SAAJAAAAHH.

Suami saya sampai berasa kaya bener ngeluarin dompet dengan penuh percaya diri *ngikik guling-guling*
Ini gara-gara pengalaman sebelumnya, dimana kami makan 3 ekor ikan yang serupa, tapi harus membayar 3 kali lipatnya. Ya namanya juga yang satu lokasinya di antah berantah, yang satu lagi di Ubud yeee😛

Lalu karena saya gak pernah ingat dokumentasi klo udah disodorin makanan beraroma sedap yang menguar, maka saya pun menghiraukan kamera yang udah menanti untuk digunakan jasanya mengabadikan si gurame goreng aduhai itu. Maapkeeun, saya memang pada dasarnya bukan foodblogger yee…😀

Jadi, foto-fotonya dari sini aja yaaa: wisata kuliner

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s