Mendadak Travelling – Solo: Oleh-oleh Khas

Standard

TOKO ORION

Nah, disini inilah yang jadi pusat oleh-olehnya kota Solo. Semacam Kartika Sari kalau di Bandung. Hanya saja, cabangnya tidak ada, ya hanya satu biji di ujung jalan itu saja. Tokonya juga toko lawas, yang tidak terlalu luas. Tapi ragam cemal cemil untuk oleh-olehnya lumayan lengkap, dari keripik ceker, keripik paru sampai Abon dan Serundeng Varia yang beken itu pun dijual disini.
Dan, yang paling khas dari toko ini adalah Bolu Lapis Mandarijn-nya. Sebenarnya sih, seperti kue bolu lapis surabaya yang jadi dasar berbagai kue ulang tahun itu. Hanya saja, ragam rasanya lumayan bervariasi.

Kalau soal oleh-oleh cemilan, saya akui memang saya selalu kalap. Pengennya semua dibeli. Untung saja tag harga ditempel di tiap item, jadi mau gak mau ya mikir juga begitu liat kalkulasi harganya, dan harus rela mengembalikan bungkusan cemilan ke raknya😀

Satu hal yang membuat saya terkesan dengan toko ini adalah tempatnya yang gak berubah dari sejak terakhir saya mampir untuk beli oleh-oleh disini. Artinya sekitar 15taunan yang lalu ya? Iikh kereeen😀

Oiya, di depan toko ini juga berjejer penjual intip dengan ukuran jumbo yang tebal. Intip itu adalah penganan kecil berupa nasi kering yang digoreng garing. Rasanya bisa manis, bisa gurih asin. Bisa jadi pilihan buat oleh-oleh iseng😀

Nah, pas keluar dari Toko Orion, nemu gerobak penjual Tahok yang lagi mangkal disitu. Alhasil, karena penasaran, saya pun pesan 1 mangkuk untuk makan di tempat. Rasanya? Ternyata gak beda jauh dengan kembang tahu berkuah gula jahe seperti yang dijual di Jakarta atau kota lainnya sih. Dan memakannya di saat cuaca panas mentrang-mentrang bukanlah suatu pilihan yang tepat. Yang ada, keringet membanjiri😀
SERABI NOTOSUMAN

Pokoknya, kalo ke Solo, oleh-oleh wajibnya adalah kue tradisional yang satu ini: Serabi Notosuman.

Karena takut kehabisan stok, kami datang ke tempat ini 1 hari sebelum kami pulang ke Jakarta. Letak pusat penjual Serabi yang terkenal di Solo ini adalah di daerah Notosuman. Dan di sepanjang jalan ini, berderetan lah penjual serabi dengan aneka rasa. Sempat bingung juga saat ditanya supir taksi mau toko serabi yang mana, karena ada 2 gerai penjual serabi yang besar di daerah ini. Letaknya juga berseberangan. Untungnya saat itu yang tidak tutup adalah Serabi Notosuman Ny. Lidia.
Begitu sampai di teras gerai ini, kami disambut dengan pemandangan puluhan mangkuk tanah liat kecil yang tertata diatas kompor arang tempat dimana serabi ini dimasak. Kontan wangi gurih menguar dari balik tutup-tutup mangkuk itu. Hmm…
Rencananya sih datang ke sini memang cuma untuk pesan sekian kotak saja untuk dibawa esok pagi, lalu cus kembali ke hotel. Tapi kok wangi gurih manis serabi yang baru matang itu menggugah selera ya. Alhasil, kami pun pesan 1 kotak isi 10 dengan rasa putih dan coklat. Masih anget karena baru matang.

Nah, pengemasan serabi ini unik. Serabi yang sudah matang, digulung dan dibungkus dengan daun pisang, baru disusun dalam kotak kecil maksimal isi 10. Penggulungan dengan daun pisang ini yang makin membuat serabinya maknyus, karena ada aroma dari daun pisang yang menempel di serabi hangat itu.

Kata mas penjualnya, makanan ini gak pake pengawet, sehingga harus segera dihabiskan. Saya sih gak yakin serabi ini bakal tahan sampai 3 hari, karena pasti sudah ludes dilahap suami😛 Tapi kalau memang bersisa dan mau aman dari kata ‘basi’ sih, boleh disimpan di kulkas. Untuk memanaskannya, cukup dimasukkan ke microwave sebentar saja. Tapi kalo gak punya microwave sih boleh saja dikukus, walau rasanya memang jadi berubah ya, tidak selembut saat baru mateng.

Ukuran serabi Notosuman ini pun gemuk sekali. Harganya untuk yang original 1.800/pcs sementara yang coklat dihargai 2000/pcs. Lumayan murah ya? Tapi kalau dibanding dengan yang dijual di sepanjang jalan slamet riyadi sih, memang mahal. Tapi soal rasa? Ehem. Ono rego ono rupo lah.

Pertama yang terlintas adalah kata ‘MANTAP’ untuk mendeskripsikannya. Mantap karena ukuran gemuknya yang padat, mantap pula dengan rasa legit dan gurih yang paaaas sekali. Tidak terlalu maniiis. Gurihnya santan berpadu ciamik dengan manisnya gula pasir. Pas mantap lah pokoknya. Untuk preferensi, saya lebih suka yang original, lebih orisinil. Sederhana nikmatnya.

Dan percayalah, 10 biji serabi notosuman ini tidak lama bertahan di tangan kami berdua. Sampai saya harus secara khusus menyembunyikan 2 potong serabi untuk bekal cemilan bangun tidur besok😀

Guess this is the last episode of #MendadakTravelling-Solo, for now yaa, siapa tau ada #mendadaktravelling-Solo kedua? Who knows kaan?
Well, I’ll see you when I see you then in the next ‘dongeng’, soon as I manage to collect my puzzled soul, hihi.

TTFN!!

Cheers!

_______________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s