Mendadak Travelling – Solo : qulinary walk pt. 4 – Gulgor Pak Samin

Standard

Nah, nemu resto yang satu ini adalah sewaktu kami iseng pagi-pagi ikutan Car Free Day versi Solo, dan kami berencana untuk menyambanginya sebelum pulang, esok harinya. Memang untuk menjelajah daerah baru, cara paling puas adalah dengan jalan kaki, soalnya jadi bisa tahu hal-hal yang mungkin terlewat kalau kita menumpang kendaraan.

Berdasarkan contekan, sajian gulgor di rumah makan ini termasuk yang paling dicari oleh para wiskuler. Penasaran pengen nyoba gulgor itu kayak gimana, tapi mepet banget waktu buat nyicipnya, alhasil waktu yang dipunyain ya… waktu sarapan. Edyaaann!!! Sarapan dengan gulgor??? Ckckckck…

Btw, gulgor apaan sih?
Nah, gulgor ini adalah singkatan dari gule goreng. Basically, gule kambing yang mana dimana isinya adalah jerohan kambing yang setelah dimasak gule sebagaimana biasanya, isinya ini lalu disaring, digoreng sampe gariiing dan disajikan dengan kuah gulenya. Hmm…. Fully loaded kolesterol lah judulnya ya?

Warung Pak Samin ini sebenarnya pusatnya berada agak jauh dari pusat kota (ato saya-nya aja yang gak tau ya? :P), tapi ternyata, dibukalah cabang di ujung jalan Ngarsopuro yang bersimpangan dengan Slamet Riyadi. Horee!
Warungnya mencerminkan another term of Spirit of Java: se-der-ha-na!
Kami sampai tepat jam 8 pagi dan udah ada 2 atau 3 orang yang baru selesai sarapan disitu. Oke, jadi bukan kami doang kan yang sarapannya ‘berani’ gini?😛

Pesanlah kami seporsi gulgor dan seporsi sate buntel, ditemani dua porsi nasi putih dan 2 gelas teh manis anget. Sarapan yang sempurnah yaa😀

Setelah memesan, ternyata kita bisa melihat langsung pembuatan gulgor itu, karena dapurnya tepat di samping ruang makan. Dapur terbuka ala tradisional. Kenapa saya bilang begitu, karena peralatannya sederhanaaaa sekali. Tipikal dapur-dapur jaman dulu dengan tungku arang dan dinding yang dihiasi jelaga. Seru. Butuh waktu sekitar 15 menitan untuk menyiksa kami dengan aroma sedap yang memadati ruangan. Tegaah! Cacing-cacing dalam perut kami sudah berontak serontakrontaknya iniih!!

open kitchen versi Pak Samin :D

open kitchen versi Pak Samin😀

Oiya, dan untuk membunuh ketersiksaan itu, kami pun iseng poto-poto botol minuman sarsaparila. Hidiih… vintage yee.

nyesel gak beli ini :D

nyesel gak beli ini😀

Dan setelah 15 menit yang menyiksa itu, datanglah pesanan kami. Porsi jerohan gorengnya alamaak, generous sekali! Sepiring metung. Disajikan dengan kuah santan gulai yang dihiasi bawang goreng . Sate buntelnya disajikan dengan potongan tipis kol, tomat, bawang merah dan cabe rawit yang diguyur kecap manis.

sarapan Xtra kolesterol :D

sarapan Xtra kolesterol😀

Olala, bagaimana ini? Tapi keraguan itu pupus sekitar 15 menit kemudian, ditandai oleh piring-piring yang ludes kosong tak bersisa. Sadiiisss!!

Memang beda ya rasa gule biasa dengan gule yang isiannya digoreng dulu. Jerohan gule yang digoreng memberikan rasa dan aroma lain saat dicampur dengan kuah gulainya. Lebih guriiiih, lebih mantap, dan lebih menyenangkan, karena jerohannya benar-benar kriuk renyah walau sudah menyerap sedikit kuah gulai. Paduannya jadi terasa lebih nonjok. Apalagi bila kita menambahkan kenikmatan duniawi itu dengan potongan cabe rawit. Uwidiiih!!! Meler ini inguuuus.

gulgor (gule jerohan goreng garing)

gulgor (gule jerohan goreng garing)

Kalau tidak suka dicampur dengan kuahnya, jerohan gorengnya bisa dicemili dengan nasi, lalu kuahnya diseruput pelan-pelan. Idiiih, kuahnya halus sekali. Tipikal gule jawa yang tidak seperti masakan padang yang banyak rempah, gule jawa itu lebih simple, lebih halus dan mild tendangan rempahnya, tapi lengket di lidah. Sukaaaaa….

Sate buntel di warung ini memang tidak selegendaris gulgornya, tapi patut juga dicoba. Sate buntel memang khas dari kota Solo. Hampir sama dengan sate kambing dalam hal ditusuk dan dibakar dengan bumbu kecap, tapi yang beda adalah daging kambingnya dicincang bersama bumbu-bumbu, lalu dibungkus dengan lembaran lemak kambing, diikat dan ditusuk lalu dibakar sebagaimana sate pada umumnya. Tapi, penyajiannya, si sate itu dilepas dari tusukannya, dipotong-potong, ditemani dengan rajangan tipis kol, bawang merah, cabe rawit dan tomat merah, kemudian dikucuri kecap manis.

penampakan sate buntel

penampakan sate buntel

Nah, untuk sate buntelnya, bagi saya, berada di level ‘cukup enak’. Dagingnya matang, tapi masih juicy. Hanya saja, tendangan bumbunya kurang mantep kalau di lidah saya. Mungkin karena sudah dikalahkan oleh gulgornya ya, jadi terasa tidak terlalu istimewa. Tapi bolehlah untuk sajian pelengkap.

jejak keganasan kami :D

jejak keganasan kami😀

Untuk santap pagi yang fully loaded dengan kolesterol itu, isi dompet saya hanya berkurang 58ribuan. Cukup puas lah ya untuk menutup petualangan kuliner kami di kota Solo.

Nantikan petualangan kuliner kami lainnya di kota Solo.
Soon.😀

_________________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s