Mendadak Travelling – Solo : qulinary walk pt. 2

Standard

GALABO: PUSAT KULINER MALAM SOLO

Sebenarnya sih, saya memilih tempat ini untuk makan malam karena hari itu malam minggu, dan kayaknya seru ya, melihat warga Solo menghabiskan sabtu malamnya. Seperti apa sih.
Pihak hotel menyarankan kami menggunakan taksi saja, karena harganya sama antara taksi dan becak. Maka setujulah kami.
Dimana sih letaknya Galabo ini? Pokoknya ikutin aja jalan Slamet Riyadi sampe tugu patungnya mentok, nah nanti diujung situ, ada seperti tanah kosong yang disulap kalau malam, menjadi jejeran pedagang kaki lima. Banyak banget jenisnya, apa aja ada, sampe bingung sendiri mau milih yang mana.

Dan owlala, malam minggu, ternyata memang malam macet dimana-mana, dan Solo pun begitu. Seperti semua kawula muda Solo tumplek blek di jalanan, menghabiskan waktu bersama komunitasnya. Hampir seluruh kursi yang tersedia di Galabo penuh terisi. Beberapa yang tak kebagian kursi, tanpa sungkan membentangkan tikar dan duduk lesehan layaknya berpiknik ria. Sayangnya, tanah di areal ini termasuk tanah pasir halus yang lumayan juga kalau tertiup angin, bisa jadi bumbu penyedap tambahan masakan pesanan ya😀

Alhasil, setelah keliling-keliling stall sekaligus ngincer tempat duduk, maka diputuskan bahwa kami akan memesan menu di stall rawon penjara yang nampaknya menggoda untuk menghangatkan tubuh.

Sebenarnya rawon penjara itu apaan sih? Sebagaimana rawon pada umumnya memang; kuah hitam kluwek, dihiasi daging sapi, dilengkapi dengan kecambah, daun kemangi dan perasan jeruk nipis. Hanya, pusat rawon ini ada di depan penjara, makanya disebut rawon penjara.
Saya memesankan nasi rawon kumplit dengan telur asin setengah butir untuk suami, sementara untuk meringankan migren yang sejak siang mencengkram kepala, saya memilih nasi soto daging dengan sate telur puyuh. Dan saya khusus berpesan kepada ibu penjual rawon, no kecap untuk sotonya. Yayaya, I’m just not those people who love soysauce for their soto😀

Saya cukup kaget saat saya tanya harga dan ingin membayar pesanan, namun ditolak oleh ibunya, dengan alasan, nanti saja, akan ditagihkan oleh pelayannya saat membawa pesanan kami ke meja. Baiklah, setelah memastikan pesanan saya tidak salah racik, saya pun kembali bergabung dengan suami. Puluhan stall di areal foodcourt terbuka ini memang menggoda semua. Ada sate kere, sate sapi, bakso, chinese food, selat solo, sate buntel, tongseng, tengkleng, apaaa aja ada deh pokoknya. Tinggal pilih. Paling enak, memang kalau ke tempat ini berbanyakan, lalu masing-masing pesan menu berbeda, lalu saling icip deh.

Gak sampe nunggu lama, pesanan kami datang. Tapi kok si mas-mas pelayannya tidak menagih bayaran ya.
Sudahlah, mari kita icipi saja masakannya ya. Untuk rawon, memang harus diacungin jempol. Dua kalo perlu, apalagi setelah teman sandingannya digabungkan dalam mangkuk, makin terasa nendang segarnya. Yang kurang nendang mungkin telur asinnya yang kebetulan kami dapat yang belum masir sekali, jadi seperti telur rebus asin saja rasanya. Untuk kuahnya, kental dan sedikit berminyak kaldu daging. Potongan dagingnya juga murah hati. Tapi tidak seperti rawon setan surabaya yang pedas sih, kalau rawon ini lebih ke taste jawa tengah yang gurih sedikit manis, kalo yang mau pedas ya silakan campurkan saja sambalnya.

Kalau sotonya sih, cukup lumayan lah. Sebagaimana soto pada umumnya.
Memang, kalo migren melanda kepala, langsung saraf pengecapan pun bubar jalan, semua terasa ‘biasa’ saja😀
Cuma ya memang karena ini menu spesial andalannya adalah rawon, maka ya pantes aja kalo rasa rawonnya yang juara.

Dan satu lagi yang juara, adalah prinsip si ibu penjual rawon ini, karena saya bingung kok tidak ditagih bayar, maka saya pun menghampiri stall untuk bayar. Saya tanyakan, kok bisa percaya sih bu, padahal kan mungkin saja saya pergi begitu saja tanpa membayar. Dan jawaban si ibu: “anu kok mba, saya percaya aja lah kalo rejeki tuh ada yang atur, jadi ya kalo si mbaknya tadi kabur, ya mungkin nanti saya dikasih rejeki gantinya yang lebih besar lagi. Gitu mba. Rejeki sih gak kemana mba, asal ikhlas dan sabar lah mba.”

Saya hanya nyengir aja mendengar jawaban itu. Mungkin bagi sebagian orang, terdengar naïve, tapi jawaban sederhana itu, memang hukum alam yang bermain disini. Segala perbuatan itu ada ganjarannya, tidak pandang bulu. Kuncinya ya ada di ikhlas dan sabar itu. Sudah berusaha maksimal, gantinya nanti juga sudah dipersiapkan oleh Sang Empunya hidup, jadi jangan pernah takut untuk melangkah.

Nice lesson. Thank you maam😀

Berapa totalnya? 28ribuan.
Murahnyaaaaaaa!!! Saya senaaang tinggal di Solo. Gyahahahaha!!!

 
 
WEDANG PENDOPO

Sebelum berangkat ke Solo, saya udah wanti-wanti suami mau nongkrong di wedangan ini malem-malem. Tapi saya gak tau tempatnya dimana. Suami setuju, dan gak keberatan kalau harus naik taksi juga. Itung-itung ngerasain nongkrong malem-malem di Solo lah, cuman minumnya wedang😀

Eh kok yao ndilalah, pendopo yang ini itu tau-taunya cuman selemparan batu doang dari hotel kami. Hanya berjarak 2 rumah doang! Gimana gak makin cinta eike sama hotel ini cobaa. Dekeeet kemana-mana.

Dan di jam 10 malem minggu nan dingin, setelah guling-guling resah di hotel, saya pun mencetuskan ide untuk mampir ke wedang ini. Suami setuju dan berdasarkan info dari mba resepsionis hotel, wedang ini buka hingga jam 12 malam. Wah, berarti mantaplah ini.
Kami pun berbekal celana pendek, kaos, jaket dan sendal jepit, tanpa makeup apapun berjalan berdua dibawah langit malam yang cerah. Aih romanthisnyaah *plaak*😀

Ternyata eh ternyata, kami masuk dari pintu belakang pendopo, karena pintu depannya ada di gang sebaliknya. Lucu juga, melewati dapur tempat masak air dan melihat kehebohan pelayan yang hilir mudik disitu.
Saya mulai curiga saat kehebohan juga terjadi setelah kami melewati dapur. Penuh ya tempatnya dan sepertinya, di bagian dalam tengah ada acara keluarga, sehingga agak ramai dengan acara foto keluarga.

Kami terdampar tanpa pelayanan disitu, sampai akhirnya saya berinisiatif memesan ke ibu-ibu yang saya liat sedari tadi mondar mandir bawa baki. Saya pun memesan wedang sereh, sementara suami memesan wedang susu jahe. Lalu mendadak, ibu-ibu itu bertanya kepada kami, “mbak-nya udah foto belum?”
Saya bingung, “foto sama siapa bu?”
Ibunya setengah geli menjawab, “anu kan pak Joko ada di dalem kui loh. Ayo cepet-cepet foto sana,” sambil mendorong saya dan suami ke arah ruang tengah pendopo.

Ooowh!!
Dan kami pun baru sadar kalau ternyata kehebohan ini terjadi karena seorang Jokowi tengah berkunjung ke pendopo ini, untuk wedangan. Eyalaaah. Sayangnya biarpun sempat melihat dari dekat, kami tak sempat berfoto bareng Bapak Gubernur Jakarta saat ini. Oiya, saat itu tepat 2 hari setelah pemilukada Jakarta, jadi Pak Jokowi sekalian selametan kayaknya.

Setelah Pak Jokowi selesai pulang, akhirnya kami benar-benar bisa menikmati ruangan wedang pendopo ini. Unikkk!!
Kami sangat suka dengan disain interior ruangan ini. VIN-TAGE!!! Looove it soooo much lah. Dari pajangan wayang, foto-foto tua, barang-barang tua, iklan-iklan jaman dulu, sampai speda ontel juga ada. Furnitur kayu jaman dulu yang digunakan untuk meja, kursi maupun buffet yang memajang barang-barang tempo dulu, juga menambah kesan vintage to the max.
Kami benar-benar betah disini dan berniat berkunjung lagi esok malamnya.

Wedang sereh yang saya pesan datang. Rasanya pas. Tapi lebih enak wedang susu jahe pesanan suami, lebih gurih karena sentuhan susunya. Angetnya lengket sampe kita kembali ke hotel. Ada aneka gorengan tersaji di piring yang selalu tersedia di atas meja, dan bisa kita comot sesuka hati (tetep harus bayar tapi yaaaa).

Di teras samping, tersedia hik yang menjajakan nasi uduk dan lauk pauknya yang bebas kita comoti. Kita bisa duduk mengitarinya sambil makan dan minum. Iiih, mantap lah.

Intinya, memang tempat ini didisain sebagai tempat nongkrong yang nyaman untuk waktu lama, dengan aneka cemilan dan minuman yang harganya tidak cepat membuat kantong bolong. Jangan disamakan ya dengan café-café ato coffeeshop di kota yang secangkir kecil kopi saja harganya bisa dibandrol 30ribu. Disini? 6000 saja sudah termasuk minum wedang dan cemilan. Bayangkan!!
Pokoknya, suka suka sukaaaaaa banget sama tempat ini. Top to the max.
Dan kami berkesempatan juga bertemu dengan pemiliknya yang super bersahaja. Pleuus, masih inget kami loh waktu gak sengaja papasan 2 hari kemudian, saat pagi-pagi kami hendak menyambangi Ngarsopuro. Dengan ramahnya, mereka pun menawarkan untuk mengantar kami kesana. Ealaah… tentu laah kami tolak dengan sopan, gak enak juga kaliii hihihi.

Sayangnya, hari minggu malam, tempat ini tutup, jadi kami hanya sempat 1 kali saja bertandang kesana. Akh, pokoknya, lain kali ke Solo, tempat ini harus jadi tujuan utama nongkrong malam kami😀

_____________________

ps: no pic taken, karna pada malam itu saya tepar jadi gak peduli sama soal dokumentasi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s