Mendadak Travelling – Solo : qulinary walk pt. 1

Standard

Cuma punya waktu ngiterin Solo dalam waktu 3 hari 2 malam, gagasan pertama yang ada di kepala kami adalah nyicipin kuliner kota solo ini. Jadi, berbekal sebuah buku kuliner yang beberapa bulan sebelumnya kami dapatkan hanya seharga 5ribu perak, maka kami pun ngiderin Solo untuk icip-icip kulinernya.
Gak banyak sih tempat makan yang kami sambangi, gara-gara ada waktu dimana saya ngotot sama suami untuk menghabiskan waktu malas-malasan di hotel. Eh, maap ya, tapi dengan hotel senyaman Rumah Turi, percuma aja deh kalo gak dinikmatin bener-bener dengan bersantai ria, leyeh-leyeh di sore hari😀 *alesan*
Baiklah, ini secuil pengalaman kuliner kami di Solo. Secuil sih, tapi dibagi jadi beberapa part, ngiyahahaha

PECEL NDESO WAROENG TEMPO DOELOE

Baru mendarat di hotel, tujuan pertama kami itu ya cari sarapan. Liat-liat di buku contekan kuliner, nampaknya tempat makan yang mudah terjangkau dari hotel tempat kami menginap itu ya Warung Tempo Doeloe ini. Akhirnya, biar pasti kemana kami harus melangkah, bertanyalah kami pada resepsionis hotel, dan saya tidak menyangka kalau jaraknya ternyata jauuuuhhh… lebih dekat dari yang saya bayangkan😀 Walking distance cuma beda gang doang ternyata. Kurang lebih 5 menitanlah, kami sudah mendarat di warung ini.

Eh, ternyata gak kayak warung loh penampakannya. Well, mungkin lebih tepatnya, warung elit yaa😀
Di depan teras ‘warung’ disediakan bale panjang yang diisi oleh para ibu-ibu penyanyi cokekan yang dengan merdunya akan menembangkan lagu-lagu campur sari mengiringi tamu bersantap. Oowh, dan ibu-ibu ini, dandannya niaaat banget loh. Bersanggul dan berkebaya lengkap. Wuidiiih.

Bangunan warungnya, njawani sekali. Bentuk Joglo gitu.
Begitu masuk, kami disambut oleh pramusaji berbatik yang dengan sigap akan segera menggiring kami ke meja saji yang tertata apik dengan aneka lauk. Pramusaji lain yang berada di balik meja saji akan menyiapkan piring rotan beralaskan kertas nasi, lalu menyilakan kami memilih menu dan lauk yang akan disantap.

Saya memilihkan suami nasi pecel lengkap sambel kacang tanah dengan lauk empal, yang standar saja, biar suami penyesuaian lidah dulu, sementara saya memilih nasi pecel lengkap sambel wijen dengan lauk belut goreng. Oiya, disini, nasinya bisa pilih mau nasi putih atau nasi merah, dan sambel pecelnya ada 3 pilihan yaitu sambel kacang tanah, sambel wijen dan sambel tumpang. Saya tidak memilih sambel tumpang karena rencananya, mau mencoba masakan ini di tempat lain.
Sayuran untuk pecel ini banyak sekali macamnya, dari toge, bayam, kacang panjang, daun pepaya, daun kenikir, dan kecipir. Sayangnya, saat kami berkunjung, kembang turi dan petai cina-nya sedang tidak ada. Tak apalah, bagi saya yang penting ada kenikir dan kecipir, hehe.
Sebenarnya, di warung ini, ada banyak pilihan lauknya, tidak hanya pecel, namun karna warung ini terkenal dengan pecelnya, maka saya memilih menu ini untuk melandasi lambung yang sudah kosong dari Pukul 3 dini hari tadi.

Interior warung ini, harus dibilang unik. Walau, untuk interior tempo dulu dengan barang-barang pajangan vintage, memang sudah banyak digunakan oleh restoran-restoran di ibukota negara sekalipun. Di sekitaran dinding warung, terpajang pigura-pigura yang memamerkan banyak selebriti maupun pejabat tenar yang sudah pernah mampir mencicipi masakan warung ini. Dan disetiap fotonya, saya bingung, kok selalu ada ibu-ibu berjilbab yang tadi melayani kami ya. Setelah ditilik-tilik, eh, ternyata yang punya loh. Wow, kalo ini, mungkin jarang terjadi, yang punyanya langsung turun melayani pelanggan yang datang, meracikkan pecel pesanan mereka. Uwoow😀

gaya dulu sebelom santap :D

gaya dulu sebelom santap😀

Oiya, yang saya suka, krupuk gendar yang tersedia di toples jadul di tiap mejanya, ndesooo banget tampilannya, karena ada bagian-bagian gendar yang dibiarkan tergoreng agak coklat (bukan gosong ya), jadi benar-benar terlihat ‘kampung’, hihi.

Lalu, bagaimana dengan rasa pecelnya?
Sambel pecel kacang khas Solo itu memang rasa dasarnya adalah manis, tidak seperti madiun yang tendangan rasa pedasnya berasa di suapan pertama. Hanya, bagi kami, menu pecel sambel kacang dengan lauk empal itu, tidak terlalu spesial. Enak, tapi tidak terlalu spesial, gitu.
Nah, yang memang baru pertama kali kami coba tuh ya sambel wijen. Saat melihat pertama kali, suami mengerutkan kening, karena sambal ini berwarna hitam, seperti petis, padahal warna hitam ini muncul karena bahan dasar kacang wijen yang disangrai terlebih dulu. Rasanya? Iiih, guriiih banget. Enak. Saya justru lebih suka sambal ini. Sedikit, memang agak tercium seperti petis, hanya, ini bukan karena petisnya, tapi karena penggunaan terasi dalam sambal wijen ini. Ada sedikit rasa pahit yang terkecap samar-samar, jadi makin kaya rasa, tidak hanya manis, pedas dan gurih. Unik!

pecel sambel wijen dgn sisa laukan belut goreng yang udah dicemilin (sayang sambel item wijennya gak jelas)

pecel sambel wijen dgn sisa laukan belut goreng yang udah dicemilin (sayang sambel item wijennya gak jelas)

Dan suami pun protes. Ngahahaha!! *tawa licik*
Itulah, salah satu keuntungan sebagai ‘pencari jejak’, a.k.a yang sibuk brosing sana sini, atur itin traveling, dan baca stumpukan review, jadi saya sudah tau duluan apa yang khas untuk dinikmati maupun untuk dilakukan. Makanya, buat yang pengen travelling, jangan males buat brosing-brosing tempat wisata tujuan, cari info sebanyak-banyaknya deh. True travellers are those who never say “terserah mau kemana/mau ngapain” lalu kayak kebo dicucuk idungnya, ngikutin temen travelling doang😀 *somboooonggg*

Suami gak berenti protes di sambel wijen pilihan saya, karena dia juga protes dengan belut goreng pilihan saya yang katanya lebih enak daripada empal daging. Ngahahahahahaha!!!! *tawa licik lagi*
Betul memang, belutnya garing, renyah, gurih dan gak amis. Belutnya ukuran kecil-kecil dan kurus, tapi segerombolan diikat pake tali gitu, jadi ya banyak jatohnya.

Oowh, dan karna saya bener-bener kepincut sambel wijen ini, maka diputuskan untuk memesan sambal pecel wijen untuk dibawa pulang ke Bogor. Sambel pecel wijen sebanyak ½ kilo, dihargai sekitar 60ribu. Pesannya harus satu hari sebelumnya. Freshly made loh, bisa disimpan di lemari es kalau tidak langsung habis.

FYI, kalo emang niat mau nyicipin pecel di warung tempo doeloe ini, emang harus sepagi mungkin, jangan terlalu sore, soalnya kami sempat kembali lagi kesini keesokan harinya, dengan niat nyemil sekitar jam 4 sore, dan semua laukannya sudah abis aja gituh beibeh. Jadi amannya sih, kalau mau mampir icip-icip masakan Solo di warung ini, datanglah sebelum jam 12 siang.

Daan, walaupun namanya Pecel Ndeso Waroeng Tempo Doeloe, tapi sejujurnya, harganya tidak ndeso-ndeso amat, alias cukup mengeruk dompet lah😀
Nasi pecel dengan laukan yang kami pilih dan 2 es teh manis, dihargai total sekita 50ribuan. Gak ndeso kaan?hihi.

Digelontor dengan es teh manis yang sepet, sarapan kesiangan kami lengkap rasanya, dan siap untuk memulai petualangan.
Senang memang ya, kalau memulai petualangan dengan temuan ciamik macam ini😀

BRONGKOS & GARANG ASEM MASJA

Temuan ciamik lainnya hadir setelah kami setengah kepayahan berpanas-panas di seputaran istana kasunanan solo hadiningrat dan pasar klewer.
Usai shalat di Mesjid Agung Solo yang sumpaaaah, unik banget bangunannyaah, itu, kami pun bingung mau makan dimana. Jam udah menunjukkan jam 2 siang. Jangan tanya migren saya udah separah apa.
Suami ingin makan yang pedas dan mantap, alhasil ya pilihan soto windu maupun selat solo pun dicoret dari daftar, dan Mas-Ja ini yang jadi juaranya.

Judulnya sih di Jalan Rajiman, dan emang sih, jalanan di samping mesjid agung itu juga Jalan Rajiman, jadi mustinya ya di sekitaran itu kan ya? Tadinya, dengan sok kuat, saya bilang suami, jalan kaki aja, sekalian liat-liat. Tapi saat suami iseng nunjukin alamatnya ke tukang becak di samping mesjid, terngangalah saya saat dia mencetuskan harga 20ribu kepada kami. Wek weenggg…. Saya pun protes dan menawar jadi 10ribu, karena berpikir emang sejauh apa sih. Eh mau loh dia. Berarti gak jauh dong kalo gitu, si abangnya aja yang ngegetok.

Eh siapa bilaaaang gak jauh???
Ternyata, kami harus menempuh sekitar 3RATUSan nomer rumah/bangunan sepanjang jalan rajiman itu. Mungkin sekitar 4 atau 5 perempatan besarlah dilalui. Dari jalanan yang ramai, sampai sepi.
Saat akhirnya ketemu juga warung makan itu, di pojokan jalan, suami sempat nyeletuk, “yakin gak mau jalan kaki aja?” Grr….
Dan saya pun karna gak tega bayar 10ribu untuk si Abang becak, akhirnya menambahkan 5ribu lagi, ihihi.

Warung Mas-Ja ini, gak beda dengan warteg yang umum di pinggir jalan. Bangunan sederhana dengan  dinding berwarna kuning gading yang agak pupus dimakan usia. Di dinding depan warung terpasang spanduk biru bertuliskan “Mas-Ja” besar-besar.

MasJa tampak depan: suram :D

MasJa tampak depan: suram😀

Namun, tidak seperti warteg yang etalase masakannya berupa lemari kaca, di warung ini masakan dipajang dalam wadah dan dijejerkan rapi diatas meja panjang. Mbaknya nanti akan dengan cekatan menyendokkan lauk pesanan kita ke atas gundukan nasi yang terlihat seperti gunung merapi saking banyaknya. Macem-macem lauknya, sampai saya bingung mau pilih yang mana. Suami tetap pada pilihannya, nasi, brongkos dan bakwan udang. Sementara saya hanya nasi dan garang asem ayam. Minumnya, kami sepakat es jeruk, untuk membunuh rasa panas yang membahana dalam diri ini *lebaayy*

Brongkos di warung ini, lebih mirip ke rawon sebenarnya, kuah santan keluwaknya tidak terlalu kental, dihiasi grontolan cengek dan daging yang aduhai, menggenangi gundukan besar nasi putih. Rasanya? Uweleeh weleh, tidak seperti brongkos dengan kacang tolo yang biasa saya makan memang, tapi nendang banget rasanya, sumpaah! Gurih dan ada jejak pedas yang tersesapi. Eenaaak!😀

Brongkos yang udah abis 1/3nya :D

Brongkos yang udah abis 1/3nya😀

Lalu bagaimana dengan garang asem pesanan saya? Tak kalah maknyus-nya, rasa garang asemnya lembut, tidak terlalu garang, diselingi asem-asem blimbing wuluh yang segar dengan cubitan pedas cabe rawit yang menggelitik. Ayamnya ayam kampung, tak berlemak, namun gurih dan empuk. Satu kali nyuap, selalu berasa kurang rasanya.

Grang Asem MasJa - udah hampir abis, baru inget moto :D

Grang Asem MasJa – udah hampir abis, baru inget moto😀

Memang puas ya kalau kelaperan di siang hari terik dilampiaskan dengan masakan sederhana namun rasanya berkualitas seperti itu. Apalagi rasa pedas yang lama-lama menyengat dijinakkan dengan manis semu es jeruk peras. Mantaaap.

Eh, jangan harap ya, warung Mas-Ja ini ber-AC, keren, dengan disain interior yang menakjubkan. Tidaak. Warung Mas-Ja, seperti saya bilang sebelumnya, hanya berupa warteg di pojokan jalan. Dindingnya setengah tembok, setengah lagi dinding kawat. Pendingin ruangan ya hanya mengandalkan angin yang semilir keluar masuk melalui kawat-kawat itu. Atapnya hanya seng/asbes. Dan ruangannya pun tidak besar, hanya ada sekitar 5 meja panjang dengan bangku kayu panjang juga. Kaleng-kaleng krupuk tak lupa bertengger di tiap meja, bebas terjangkau tangan, tapi tetap harus dibayar yaa😀

Tapi kesederhanaan tempat dan masakan itu, tidak membuat pengunjung malas datang. Bahkan saat kami makan disitu, mobil yang terparkir di depan warung adalah sedan-sedan buatan eropa. Ckckck… pake ajian apa sih ini si Mas Ja.
Oiya, Mas-Ja itu ternyata singkatan dari Masakan Jawa, bukan nama orang😀 Dan di warung makan ini, ada banyak pilihan masakan jawa, dari lodeh, bothok, sayur bobor, dan masih banyak lagi. Saya sempat foto juga menu masakan di warung ini yang lagi-lagi hanya dicetak dengan mengandalkan spanduk biru yang dipasang di dinding ruangan.

papan menu di MasJa

papan menu di MasJa

Namun, yang lebih mengagetkan lagi, adalah saat kami ke kasir dan hendak membayar pesanan tadi. Berapa? 32ribu saja. HAAAK!!! Minumnya es jeruk loh, dua pula! Pake krupuk lagi si suami. Saya sampe nanya dua kali ke bapak yang di kasirnya, takut saya salah dengar. Tapi enggak loh, itu udah bener semua.

Kalau sudah begini, makin giranglah hati. Seterik apapun panas yang menyengat, rasanya tetap sesegar es jeruk, gyahahahah!!!

Tandain ini warung, ntar akan kami sambangi kalau maen-maen ke Solo lagi. Aamiiinn😀

___________________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s