Mendadak Travelling – Solo : 1st Impression

Standard

Bandar udara Adi Sumarmo itu kalau dibandingkan dengan Soetta, sudah tentu kecil. Mungkin hanya sebesar terminal 1A Soetta saja, tapi bersih loh. Rapi. Banyak cahaya. Hanya memang yang berasa kurang adalah tempat makan untuk nunggu boarding. Memang ada sih warung makan yang cukup terkenal sekian ratus meter jaraknya dari gedung bandara, tapi ya kalau dijalani di bawah terik matahari sambil nenteng2 koper sih yaa, wassalam deh😀

Untuk soal transportasi menuju bandara yang jauuuh berada di luar kota Solo itu, tersedia juga layanan transbatik Solo, walau memang jam operasionalnya tidak setiap menit ada, tapi cukup membantu. Kebetulan sekali, penginapan kami menyediakan layanan airport transfer yang tidak dikenakan fee tambahan lagi, tentu tanpa berpikir dua kali, kami pun memanfaatkan layanan tersebut sehingga tentu saja itu amat sangat menghemat biaya kami. Sempat saya melihat transbatik Solo yang tengah bertengger di halte bandara, sempat terbersit untuk mencobanya lain waktu nanti.

Lucunya, bapak supir yang menjemput kami ini ternyata termasuk orang yang berada di lingkungan dekat Gubernur DKI baru terpilih kala itu, Pak Jokowi. Begitu suami menyinggung masalah pemilukada DKI yang sukses dimenangkan oleh Pak Jokowi, dengan semangat 45, Bapak supir menceritakan keberhasilan dan keunikan kepimpinan Pak Jokowi selama menjabat sebagai Walikota Solo. Hmm, menarik. Walau kami bukan warga Jakarta, tapi kami berharap Jakarta yang baru menjadi jauh lebih baik dari Jakarta yang sebelumnya deh.

Lalu bagaimana dengan suasana kota Solo sendiri?
Macet? Ya tentu ada di beberapa titik, terutama di lampu merah-lampu merah perempatan . Tapi berhubung saat itu Sabtu pagi, ya sudah tentu jalanannya masih tergolong sepi.
Namun yang harus diakui adalah, kota Solo ini menurut saya pribadi, tergolong kota yang cukup bersih. Hampir jarang ditemukan gundukan sampah atau daerah yang bau akibat genangan air got yang tidak dapat mengalir. Bersih.

Satu lagi yang menurut saya sangat menggambarkan Solo adalah kotanya yang really really a laid-back city. Gak percaya? Saya menyaksikan sendiri keadaan jalan-jalan protokol Solo di Senin pagi jam 7 yang sungguh sepi kosong nian itu. Bandingkan dengan Jalan-jalan protokol di Jakarta atau Bogor lah di  jam yang sama yang kemacetannya bisa bikin kaki semutan, pantat kebas dan kepala migren *lebay*😀 Sementara di Solo? Jalan Slamet Riyadi yang satu arah dan selebar Sungai Bengawan Solo itu, sungguh amat lengang dan kendaraan yang seliweran amat sangat mudah dihitung pake tangan. Ckckck….

Slamet Riyadi di Senin Pagi 24 September 2012

Slamet Riyadi di Senin Pagi 24 September 2012

Cara paling asik untuk menikmati kota Solo adalah dengan becaknya yang besar dan luas. Yang pasti, saya dan suami tak perlu desak-desakan untuk duduk dalam satu becak. Dan lucunya, tukang becak di Solo ini termasuk yang gemar menjawab, “seiklasnya mba aja lah” saat ditanya harga tarif menuju satu tempat. Nah, giliran saya yang bakal bayar yang bingung saat mendapat jawaban seperti itu toh. Untuk jarak jauh, biasanya ada patokan harga sekitar 25ribu (ini rate wisatawan kayaknya :D), tapi kalo tega nawar dan keukeuh sih, 15ribu juga mereka bersedia mengantar. Jarak terjauh kami dengan becak itu ditempuh dari galabo ke penginapan di daerah turisari. Yaah klo diukur-ukur mungkin dari bundaran senayan sampe gedung indosat lah ya jauhnya😀

Kota Solo ini memang cenderung lengang bin santai, tapi jangan berasumsi lengang saat malam minggu dan bercokol di daerah Ngarsopuro, yang terkenal sebagai daerah seniman-nya Solo itu. Weleh-weleh, disini ini nih tempat berkumpul segala jenis komunitas, dari yang jelas sampe yang gak jelas lagi😀 *peace* But it was the most interesting place at the most fun time ever to visit, to my count ya.

Paling menyenangkan di kota ini adalah sikap orang-orangnya yang nrimo dan cenderung berprinsip “segalanya itu ada yang atur, ada yang bales. Yang penting usaha dulu sampe poll, balesannya nanti udah nunggu di ujung jalan.”, jadi memang terkesan santai lah. Makanya kalo dibilang,  Solo – Spirit of Java, ya mungkin memang benar adanya begitu.

So, will we ever go back here? Let’s see, we even have a plan of moving here. So that means something, right?? Hihi.

Keep the Spirit of Java Alive ya Solo, until the time we’re lucky enough to meet again😀

____________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s