Jalan-jalan kuliner di Bali Pt. 9: Nasi Ayam Kedewatan Bu Mangku yang tersohor itu

Standard

Banyaknya situs maupun forum-forum sosial yang menonjolkan warung makan yang satu ini, membuat saya penasaran, se-spektakuler apa sih nasi ayam bikinan Bu Mangku ini. Apalagi ulasannya yang diberikan juga mencantumkan rating yang berbunyi “SANGAT DIREKOMENDASIKAN”. Wedeeww…. Makanya, saat tahu kalau hotel tempat kami menginap di malam terakhir di Bali ternyata harus melewati Jalan Kedewatan, saya cukup girang.

Warung makan yang satu ini, akhirnya saya temukan saat perjalanan menuju hotel setelah kami bersantap siang di Bali Cow. Dan ternyata, dimulai dari tugu pertigaan jalan Kedewatan-Lungsiakan itu, berderet-deretlah warung nasi ayam kedewatan buatan ibu-ibu di daerah situ, tidak hanya Bu Mangku saja. Kami pun sepakat untuk mencobanya esok hari, sebelum kami berangkat menuju airport.

Sempat mengkonfirmasi ketersohoran warung makan Bu Mangku ini kepada Pak Rudito yang mengantar kami menuju Ubud Center dari hotel, dan menurut beliau, nasi ayam Bu Mangku ini memang termasuk masakan khas Bali. Dan ia menambahkan, “tapi yang selatan ya, kalau yang utara itu bukan Bu Mangku.” Nampaknya kebingungan kami akan arah kompas, terbaca oleh Pak Rudito, sehingga beliau akhirnya meralat, “kalau bapak dari hotel, Bu Mangku itu yang paling dekat dengan tugu, di sebelah kiri, nanti bapak tapi parkir saja di kanan.”

Ooo……😀

Baiklah. Keesokannya, kami pun akhirnya mencicipi masakan ayam Bu Mangku itu.

Kurang dari jam 12, kami sudah berada di restoran itu. Sepi! Baru kami berdua yang muncul. Makan siang yang kepagian atau sarapan yang kesiangan kah sebenarnya kami ini?😀

Kami memilih duduk di depan, tidak berlesehan di teras-teras bangunan bali yang ada di pekarangan samping bangunan utama warung tempat beberapa meja berada. Seorang perempuan bali pun menghampiri, tanpa senyum. Hanya menatap kami.

Jreeeng….. ada yang aneh kah?😀

Dengan polos, saya bertanya, “ada menu apa mba?”

“nasi ayam saja disini,” jawab mbanya singkat, lagi-lagi tanpa senyum. Seperti robot, batinku.

“okelah, nasi ayam dua ya mba. Minumnya teh manis anget 1 sama teh tawar 1.”

Dan berlalulah mba itu ke arah counter makanan yang penuh pajangan lauk di samping cashier. Saya dan suami saling bertatapan dan mengulum senyum.

Tak lama berselang, datang beberapa tamu secara terpisah, bahkan ada bule juga yang mengendarai sepeda motor sewaan mampir kesini. Kontan, mba-mba yang tadi bergerombol di belakang counter makanan, bubar jalan melayani para tamu. Dan ternyata sepertinya memang SOP pelayanan disini seperti itu: tanpa senyuman. Hmm…

Pesanan kami datang tidak lama kemudian.

nasi ayam kedewatan Bu Mangku

Satu yang terbersit langsung di kepala saya saat melihat menu kami: orang Bali makannya banyak ya, gak itungan jumlah nasi dan lauk, semua bruk segambreng dalam piring.

Di piring kami terdapat: segunung nasi putih, lawar sayur, ayam pelalah (suwiran maupun ayam glundungan), satu tusuk sate lilit ayam, setengah potong telur pindang, kacang tanah goreng dan beberapa glinding kulit ayam goreng. Lalu disiramlah nasi kami dengan kuah merah.

Hmm… rasanya?

Yang pertama menyergap adalah rasa pedas cabai rawit yang mencengkeram lidah kami begitu kuat, membuat kami terdiam seribu kata, berusaha mengusir rasa pedas yang dominan itu. Namun apa daya, seluruh indera pengecap kami sudah dibuat merekah oleh panasnya cabai, sehingga agak sulit untuk mengecap rasa lain kecuali pedas.

Lauk yang tidak pedas di piring itu nampaknya hanya telur, kacang dan kulit ayam goreng. Saya kebetulan penggemar kulit ayam, apalagi kalau digoreng garing. Tapi bagi saya, kulit ayam goreng buatan Bu Mangku ini garingnya terlalu keras, sehingga bergemeletukan saat dikunyah, seperti mengunyah krupuk yang tidak mekar sempurna. Keras. Bukan kress kress kriuk garing.

Lauk yang saya suka disini, justru sate lilit ayamnya. Terasa semburat pedas, gurih dan daging ayamnya terasa kuat. Berbeda dengan sate lilit ayam yang sebelum-sebelumnya saya coba. Yang ini, bisa saya bilang, enak.

Bagaimana dengan ayamnya yang menjadi menu utama di warung ini? Bagi saya pribadi, rasa yang terkecap memang hanya rasa pedas. Saya mencari-cari rasa gurih, namun sepertinya saya hanya bisa mendapati rasa pedas saja. Cukup disayangkan sebenarnya, karena banyak sekali ulasan yang menyebutkan ke-spektakuler-an masakan ini, yang ternyata malah tidak saya dapatkan. Atau ekspektasi saya yang terlalu tinggi? Yang pasti, setelah mencicipi nasi ayam itu, saya malah mendadak kangen dengan menu gulai ayam Padang😀

Eniwei, untungnya, harga yang dipatok tidak terlalu mahal. Untuk satu porsi nasi ayam dihargai Rp15.000,- sementara teh manis Rp3000,- dan teh tawar Rp2000,-. Total pengeluaran kami untuk makan siang kali itu adalah Rp35.000,-, murah taaakk???

 

2 responses »

  1. udah lama ga mampir, ternyata yang punya blog usah pindah alamat dan juga sudah nikah😀
    congratz yah *udah telat sih :D*
    bagus ulasan wisata kulinernya, sukses bikin ngilerrrrr…..
    salam dari Zurich!

    • 😀
      tengkyu ya Ika udah mampir2. daku malah blm sempet mampir ke ‘rumah’mu nih. eh, masih betah di Zurich ya? *yaiyalaaah!! :D*
      salam balik dari Bogor yaa😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s