Jalan-jalan Kuliner Pt. 8: Menikmati temaram Café Wayan, Monkey Forest – Ubud Bali

Standard

Saat menggunakan servis free-shuttle to Ubud Center dari hotel, kami iseng tanya-tanya sama Pak Rudito (orang Bali tulen tp bernamakan Jawa ya?😀 ) yang mengantar-jemput kami saat itu tentang keberadaan Warung Laka Leke yang dari tadi siang kami cari gak nemu-nemu itu. Jawaban Pak Rudito saat itu hanya, “wah jauh itu mba kalau dari sini.” Lalu ia mereferensikan Café Wayan bila kami ingin mencicipi masakan-masakan khas Bali. Huum….memang sih, nama café yang satu itu selalu muncul dalam tiap halaman situs yang mengulas kuliner Bali. Tapi kaaan….. *ragu*

Namun akhirnya, malam itu, kami pun berlabuh di café itu juga, setelah diinformasikan oleh seorang mbak-mbak yang lagi duduk di atas motor yang terparkir di depan sebuah butik baju, bahwa Warung Laka Leke yang ingin kami datangi itu ternyata harus ditempuh dengan menyusuri jalan setapak di samping Monkey Forest.

Alamaaak.

Jujur saja, tapi melihat kerimbunan pohon-pohon besar di Monkey Forest dari kejauhan dilatarbelakangi oleh langit yang meredup gelap, nyali saya dan suami langsung menciut. Mungkin lain cerita kalau kami tiba di tempat ini pagi atau siang hari. Dengan santainya, si mbak itu menambahkan, “emang sih gelap mba, tapi kalo jam segini sih masih cukup terang kok.” Batinku saat itu, mba ini gimana sih, kan ntar pas kita pulang pastinya udah malem, ya gelap dong ah!

Lalu,  kami pun memutar arah, dan memutuskan untuk memasuki café yang dipromosikan Pak Rudito tadi. *Jangan-jangan si Pak Rudito dapat komisi nih, promosiin café, hihi*

Dari depan, café ini memang terlihat begitu temaram, cenderung gelap. Tapi, memang kebanyakan café di daerah Ubud ini memang demen yang temaram cenderung gelap begini kayaknya. Memasuki café, kami langsung disambut oleh pelayan-pelayan yang cukup ramah, dan diantarkan ke sebuah bale lesehan yang terdiri dari 2 meja terpisah. Baiklah, memang cocok sekali, saya butuh meluruskan kedua kaki ini dengan santai.

Bolak balik buku menu, saya pun mendengus pelan. Yap! Café ini pun menyajikan menu yang tidak bisa kami makan terkait dengan masalah agama yang kami anut. Tapi bagaimana? Kami sudah keburu kelaparan dan terlalu malam untuk mencari alternatif café lain.

Alhasil, kami pun sepakat memesan yang minim kerawanan. Saya memesan nasi campur ayam khas café wayan, sementara suami memesan nasi manas. Minumnya standard: ice tea dan ice lemon tea, hihi.

Sambil menunggu pesanan, kami celingukan melihat-lihat suasana café dengan menikmati sepiring kecil kacang bali yang disajikan sebagai menu penunggu. Sayang sekali, lokasinya kurang oke untuk melakukan pemotretan dengan cahaya yang minim begitu. Apalagi, kamera saya model jaman rikiplik😀

Ternyata, lokasi duduk kami dekat dengan sebuah parit kecil yang airnya bergemericik riang meramaikan malam itu. Sayangnya, bukan saat bulan purnama ketika kami berkunjung, sehingga kurang romantis, hihi. Café-nya sendiri memang didisain dalam dua bagian: bagian depan hanya meja dan kursi sementara bagian belakang, terdapat bale-bale kecil maupun besar untuk menikmati santapan yang lebih privat dan santai.

Tak berapa lama, menu pesanan kami datang. Saya cukup iri dengan pesanan suami yang menggoda. Nasi manas pesanannya itu ternyata adalah nasi goreng dengan campuran potongan dadu ayam, kismis, potongan kacang mete dan… potongan buah nanas. Disajikan dalam buah nanas yang telah disulap sedemikian rupa menjadi mangkuk. Unik! Rasanya? Gurih dan segar manis karena sisipan rasa kismis dan nanas. Andai ada sedikit rasa pedas dari potongan rawit tentu akan lebih menajamkan rasa (maklum, saya termasuk yang suka lidahnya dicubit-cubit oleh si rawit😀 )

Pesanan saya datang selang 10 menit dari pesanan suami. Dan saat disajikan di depan kami, saya pun melongo takjub. Piring saya penuh sekali!!!

nasi campur bali khas cafe wayan (poto bukan pesanan kami😀 )

Nasi campur ayam ala café wayan ini menurut saya amat sangat memanjakan pemesannya. Bagaimana tidak? Dengan harga Rp47.000,-, sudah mendapatkan segunduk nasi di tengah piring yang dikeliling dengan bukan hanya 3 lauk atau 4 atau 5 lauk, tapi….. 9 lauk plus segenggam kerupuk! Istimewa!! Saya sampai bingung mau mulai dari mana saja makannya. Laukannya sendiri terdiri dari: sate lilit ayam (1), perkedel jagung (1), kering tempe, serundeng, goreng kedelai, pelalah ayam, lawar kacang panjang, telur balado ( ½ potong) dan semangkuk kecil kari ayam. Banyak kan? Seperti nasi rames dengan lauk ekstra.

Namun, apakah rasanya juga tak kalah menakjubkan dari jumlah laukan itu?

Hmm, saya memulainya dari kari ayam yang disajikan dalam mangkuk kecil itu. Potongan daging ayamnya besar-besar, bercampur dengan kentang dan daun basil. Menurut saya, sedikit tambahan garam dan tendangan bumbu kari, tentu akan membuat kari ini lebih mantap untuk dinikmati. Namun mungkin karena lauk ini bukan dominan, maka sengaja tidak dibuat lebih kaya rasa dari laukan lainnya.

Bagaimana dengan laukan lainnya? Menurut saya pribadi sih, tidak ada yang terlalu istimewa. Semua laukannya cenderung bercitarasa “mild”, bahkan ayam pelalah yang saya harapkan mengedepankan rasa gurih dan pedas pun hanya terasa sebagai ayam goreng suwir saja. Pun dengan sate  lilit ayamnya. Laukan yang gurihnya cukup terasa bagi saya, mungkin malah lawar sayurnya. Asin gurih dengan aroma kelapa parut yang cukup kental.

Tapi mungkin saja, pemilihan rasa yang “mild” ini juga diakibatkan oleh pangsa penikmat makanan di café ini yang nampaknya mayoritas turis asing, sehingga rasa yang dikeluarkan dari laukan yang disajikan dalam nasi campur ini pun tidak terlalu kuat menendang. Sehingga bila dimakan sendiri-sendiri tidak meninggalkan kesan apapun bagi saya yang terbiasa dengan masakan melayu yang kaya rasa (maklum, bersuamikan padang-batak membuat lidah saya jadi ikutan galak dengan bumbu😀 )

But again, it’s worth the try. Apalagi dengan disain dan tata letak ruang café yang cukup membuat kami serasa ditarik keluar dari hiruk pikuk keramaian untuk menikmati bersantai bersama orang yang dicintai, diiringi oleh gemericik air, hmm…

 

note: mohon maaf tapi karena pencahayaan yang kurang oke mengakibatkan hasil foto buruk (alesan pdhl amatir), jadi saya terpaksa minta Om Google potonya, tapi saya lupa situsnya apa. Maaf yaaa ^___^V

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s