Jalan-jalan Kuliner Bali Pt. 7: Mencicipi Sirloin Steak ala Argentina di tepi sawah Ubud – Bali Cow Ubud

Standard

Mencari restoran halal di daerah Ubud itu harus diakui… SUSAH sekali! Kalaupun ada restoran yang mengusung bebek goreng sebagai unggulannya, tetap saja ada selipan menu si sapi buntet alias babi itu, sehingga bagi kaum Muslim, seperti kami, agak ragu untuk mencobanya. Apalagi mencari restoran steak, waah, yang jadi rekomendasi tentunya yang tidak ada tulisan halal-nya. Cukup merana juga, mau makan enak tapi terbentur masalah kehalalan.

Eh, kok ya mendadak dapat referensi makan steak halal lagi-lagi dari artikel di detikfood. Nama restorannya Bali Cow, dengan menu andalan steak ala argentina.

Uwidiiih, saya pun penasaran, steak ala argentina itu seperti apa rasanya.

Kami pun merencanakan untuk bersantap malam di restoran ini. Sementara untuk makan siang, rencananya akan mencicipi bebek di warung laka leke yang katanya sih halal itu, sebagai makan siang. Sudah melewati kemacetan pasar Ubud, sudah terpaksa muter arah balik menyusuri monkey forest, tetap saja restoran ini tidak ditemui. Alhasil, kami yang patah semangat pun memutuskan untuk masuk ke hotel terlebih dahulu di daerah Payangan. Seingat saya, Bali Cow ini berada di jalan Lungsiakan, arah menuju Payangan, ya sudah, sekalian lihat kondisi untuk makan malam nanti.

Begitu tingkungan mengarah ke jalan Lungsiakan, kami langsung disambut dengan papan nama restoran berwarna merah dengan tulisan Bali Cow. Aih, ternyata tak sulit mencarinya. Dan tanpa berpikir panjang, plus didera rasa lapar yang amat sangat, suami pun memutuskan untuk makan steak sebagai menu makan siang saat itu, daripada mati kelaparan demi pencarian sepotong bebek, begitu katanya.

Saya cukup terkejut sebenarnya dengan kondisi restoran ini. Sangat sederhana, untuk ukuran restoran steak. Dan terletak di tepi sawah. Sehingga judulnya memang tepat: menikmati steak di tepi sawah. Padahal kami berasumsi kalau restoran yang satu ini, berbentuk mirip Made’s Warung atau kafe-kafe lain yang berada di sepanjang jalan Monkey Forest di tengah Ubud.

Di depan restoran, terdapat drum-drum yang berjelaga hitam berisi kayu-kayu bakar yang langsung berhubungan dengan tungku pembakaran di dapur yang terletak di belakang resepsionis, sehingga kita bisa sedikit melongok kedalam dapur saat membayar pesanan.

Jangan berharap Anda akan dilayani oleh pelayan-pelayan muda yang gesit dengan seragam restoran dan menu masakan yang tercetak di buku tebal layaknya restoran steak pada umumnya. Yang segera melayani malah penampakannya lebih cocok untuk warung makan pecel. Ya, mbok-mbok Jawa yang biasa kita temui kalau kita membeli Nasi Pecel Pincuk di jalanan Jogja itu.

Kesederhanaan restoran inilah yang membuat saya ragu dengan rasa masakan yang akan disajikan. Tapi, kami sudah terlalu lapar untuk beralih tempat dan tidak tahu juga akan kemana lagi di daerah Ubud ini untuk mendapatkan masakan halal.

Kami meyakinkan pelayannya kalau menu yang tersedia halal, dan menurutnya disini hanya menyajikan menu dari Sapi Bali. Cukup kaget juga, karena bukankah Sapi diharamkan untuk dimakan bagi masyarakat Bali? Jawaban pelayannya cukup sederhana, “iya mba, kan itu untuk orang asli Balinya, kalo yang pendatang sih halal kan?” Kami tertawa juga mendengar jawaban itu. Iya sih, bener juga. Dan ternyata, restoran ini tadinya dipegang oleh orang Bali, namun baru-baru ini dialihkan kepengurusannya pada orang Jawa. Hmm, pantas kan, kalau tadi saya bilang, pelayan disini lebih cocok penampakannya sebagai penjual Nasi Pecel Pincuk Jawa?

Setelah membaca kertas menu berlaminating yang tampilannya tak kalah sederhana, kami pun sepakat untuk mencoba sirloin steak ala Argentina dengan saus khasnya, chimmicurry. Saus apakah chimmicurry itu? Apakah berbentuk kari? Kita lihat saja nanti. Kami berdua sama-sama memesan tingkat kematangan medium. Saya termasuk yang suka menikmati rasa original daging, walau belum tega memesan tingkat Rare kalau mencicipi steak. Menurut saya, tingkat medium termasuk cukuplah untuk menikmati rasa daging sebenarnya.

Oiya, menurut pelayannya, pesanan kami sudah termasuk kentang goreng dan tumis sayuran. Waah, ternyata cara penghidangan dan harganya sama seperti steak Abuba di Jakarta. Tapi bagaimana dengan rasanya? Mari kita tunggu saja sambil menikmati hijaunya sawah dan jalan raya sempit yang dilalui oleh satu dua kendaraan yang ternyata memberikan keteduhan tersendiri. Memang berbeda dengan daerah Seminyak atau Legian atau Kuta yang hiruk pikuk semrawut, di Ubud ini suasananya cocok untuk bersantai ria menyatu dengan alam.

Agak lama juga kami menunggu, karena ternyata, pembakarannya dilakukan di tungku kayu bakar!! Owlala!! Baiklah, mari kita seruput saja dulu es jeruk perasnya. Hmm.. manis segar asli perasan jeruk. Bukan rasa jus-jus jeruk botolan yang biasa disajikan di restoran-restoran barat umumnya. Tapi jenis yang akan ditemukan di restoran lokal. Benar-benar asli perasan jeruk dengan gula pasir. Hmm, segar menyapu dahaga.

Lebih setengah jam kemudian pesanan kami datang. Dan kami masing-masing tertegun sekian detik menatap isi piring-piring putih besar di hadapan kami berdua: 250gr potongan tebal daging sapi yang terbakar medium sempurna dihiasi setangkup saus berwarna hijau dan potongan jeruk nipis diatasnya, kentang goreng dan tumis sayur yang murah hati sekali porsinya mengelilingi daging itu. Hmm, harumnya segar.

sirloin steak a la argentina di Bali Cow Ubud

Saya menilik-nilik saus hijau itu, mengorek-orek dengan garpu. Nampaknya potongan banyak aneka daun (yang kemudian saya tahu salah satunya adalah daun parsley), dicampur dengan minyak zaitun. Untuk menikmatinya, harus dikucurkan perasan jeruk nipis dahulu diatas saus tersebut.

The moment of truth datang saat menancapkan pisau dan garpu kedalam potongan daging. Yak! Sempurna! Medium sempurna. Saat dipotong, semburat merah muda merona menyambut. Teksturnya empuk nian.

Bagaimana dengan rasanya yang dipadu dengan saus chimmicurry hijau itu? Wauw!!! Kalau saja saya tidak tahu malu, tentu saya akan berseru kegirangan. Kenapa? Karena akhirnya saya mencicipi satu bentuk steak yang rasanya otentik sekali. Sangat pure daging yang terasa, tanpa terlalu disembunyikan oleh rasa saus barbekyu yang macam-macam. Just the meat in a perfect shape, perfect texture and perfect taste. Maap kalau saya berlebihan, karena jujur saja, saya baru pertama kalinya mencicipi steak yang pure taste of meat, tanpa tetek bengek saus yang ujung-ujungnya malah terasa seragam dan monoton.

Daging sapinya lembut, tidak alot, bahkan bagian lemak yang mengitari dagingnya lembut lumer di mulut pun tidak amis. Dagingnya sendiri hanya dilumuri oleh garam, lada dan minyak zaitun sebelum dibakar. Benar-benar cara tepat mendapatkan keaslian daging. Saat disandingkan dengan saus chimmicurry-nya, rasa yang tampil di garda depan adalah asam segar yang lembut dari perasan jeruk nipis. Membantu lidah untuk tidak merasa bosan dengan rasa daging.

Kentang gorengnya renyah. Tebakan saya sih, kentang olahan yang dijual di supermarket, tapi hasil gorengannya bisa renyah sampai sisa terakhir di piring, tidak jadi loyo. Untuk sayurannya yang cukup melimpah itu pun rasanya pas. Pas kematangannya pula.

Saya cukup terpukau saat melihat ke piring suami, dan ia tidak menambahkan saus apapun kedalam piringnya. Padahal, biasanya ia termasuk manusia yang gemar menumpahkan segala saus ke piring steaknya. Saat saya berkomentar, “tumben gak dikasih saos.” Ia menjawab, “enak. Orisinil nih.” Dan entah karena kelaperan atau memang doyan, ia menandaskannya sampai licin dalam waktu cepat.

Saya sendiri tak tahu apakah ini rasa Steak Ala Argentina maupun rasa saus chimmicurry yang sesungguhnya, tapi yang jelas, ini pengalaman baru menikmati steak bagi saya dan suami. Dan saat saya menuliskan cerita pengalaman saya ini, saya terbayang-bayang lagi kelembutan sirloin steak dan saus chimmicurry yang segar menggoda itu. Aakh, kalau saja tidak harus ke Bali untuk menikmatinya, tentu akhir minggu ini saya sudah nongkrong di warung steak itu dan memesan steak ala argentina ini lagi dan lagi.

Oiya, berapa yang harus kami keluarkan dari dompet? Untuk steaknya dibandrol harga Rp65.000,00/porsi cukup murah kan? Nah, yang harganya selangit menurut kami justru minumannya. Es jeruk dihargai Rp20.000,00/gelas. Owlala… totalnya kami mengeluarkan Rp170.000,00 untuk makan siang ala Argentina. Hmm, apakah ini juga menu favorit Maradona? *kriuk…*

 

update 2016:

Jadi, pertengahan 2015 lalu, saya kembali travelling ke Ubud dengan niatan untuk kembali nyicip steak endeuus ini, namun eh tetapi, saat tiba di tempat tujuan, resto Bali Cow ini ternyata sudah tidak lagi beroperasi😦  Cukup sedih saat mengetahuinya, untunglah sempat mencicipi walau sudah lama sekali, hehehe.

3 responses »

    • halo ssilverly, tengkyu udh mampir yaa.
      sedikit share soal tpt makan halal di bali ya. klo kamu iseng baca2 blog saya ttg kuliner di bali ini sih hampir semuanya yang di-review disini sih InsyaAllah halal ya. tapi ada beberapa resto halal yg bisa kamu coba klo pas travelling ke bali 2014 nanti (psst, promo AA bukan? :D)
      beberapa resto halal yang saya tahu:
      1. ayam & bebek betutu khas gilimanuk (cabangnya banyak loh, di bandara juga ada, hanya pasti lbh mahal) yang paling dekat dengan bandara, ada juga di daerah tuban

      2. ayam plengkung di daerah kuta (terusannya tuban)
      3. nasi pedas bu andika di daerah kuta (terusannya tuban)
      4. nasi pecel bu tinuk di daerah kuta (terusannya tuban)
      5. ayam taliwang di daerah denpasar (ada taliwang baru & taliwang bersaudara)
      6. nasi ayam kedewatan di ubud
      7. sawah indah di ubud
      8. bali cow di ubud
      … dst
      sebenarnya msh banyak lagi sih resto halalnya di bali. dan kalau kamu tipe yang tidak mempermasalahkan menu babi terselip dalam buku menu, namun cara pemasakannya dibedakan tempatnya, mungkin lebih banyak lagi pilihan restonya. tapi kalau kamu tipe yang strict halal (seperti sayaa😀 ), maka memang harus lebih berhati-hati dalam memilih restoran. biasanya restoran yang western minded, akan tetap menyajikan pilihan menu dari babi, walau tentu menurut mereka, pemasakannya dibedakan.
      daan, mencicipi masakan khas bali pun harus teliti juga karena beberapa makanan khasnya berbahan dasar babi, seperti salah satunya adalah sate plecing.

      hmm, itu aja kali ya sharing sekelumit resto halal yg saya tahu ada di bali. mungkin untuk lebih memperkaya perbendaharaan resto halalnya, kamu emg musti rajin2 berguru ke Mbah Google sih😀

      tengkyu ssilverly, nanti sharing juga hasil hunting resto halalnya di bali yaa.
      happy travelling!!!

      -poet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s