Jalan-jalan Kuliner Bali Pt. 4: Menikmati Nila Bakar sambil terombang-ambing di Resto Apung Kedisan – Kintamani

Standard

Nampaknya, pepatah yang berbunyi “carilah ilmu sampai ke negeri China”, tidak hanya berlaku untuk ilmu saja, tapi juga berlaku untuk makanan enak😀

Dari awal merencanakan plesiran ke Bali, suami udah ribut kepengin melihat Pura Besakih dari dekat, mengingat terakhir kali dirinya mengunjungi pura terbesar yang terletak di kaki Gunung Agung itu adalah sewaktu dirinya masih ingusan berseragam putih merah, alias jaman eS-De. Alhasil, sebagai perencana perjalanan, saya harus mempelajari peta agar perjalanan ke Pura Besakih tak hanya berakhir dengan pose standard di pintu gerbang pura tersebut.

Brosing sana sini, akhirnya didapatlah rute yang asik untuk berpetualang ria. Diawali dengan memasuki kawasan sukawati, menuju tampaksiring untuk mengunjungi tirta empul, melaju ke danau batur dan melipir ke pura besakih sebelum akhirnya pulang kembali ke denpasar.

Rutenya memang mengasikkan untuk tersesat, dan setelah diukur-ukur, saat makan siang tiba, kami akan berada di daerah danau batur. Kira-kira makanan apa yang bisa disantap di daerah sana? Ada banyak resto yang menggusung tema buffet dengan pemandangan ke danau, tapi kok kayaknya agak membosankan ya? Mahal pulak! Lalu, kembali brosing, dan nama restoran ini pun muncul sebagai rekomendasi: RESTO APUNG KEDISAN.

Weleh-weleh, dari namanya, pasti itu tempat makannya ngapung di atas Danau Batur deh. Menarik kan? Mari kita masukkan ke daftar jelajah.

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu untuk mengapung-apung di atas Danau Batur pun datang. Namun, jangan ditanya mengenai perjalanan menuju restoran itu, karena amat teramat membutuhkan perjuangan penuh cucuran keringat dan debaran jantung penuh khawatir *lebay sangat*. Begitu jauhnya hingga kami berasumsi kalau hampir kesasar sampai akhirnya kami tiba di pintu gerbang menuju kawasan wisata danau batur.

Dari kawasan wisata tersebut, untuk menuju ke Kedisan, ternyata masih harus melewati jalur penelokan yang Gusti Allah, itu kelokannya emang amat sangat mematikan. Jalur Puncak aja kalah sangarnya. Saya yang duduk di bangku penumpang sampai harus berkali-kali menahan napas tegang, apalagi ditambah dengan rendengan truk pengangkut pasir yang jadi lawan main di jalur ganas tersebut.

Tak terlukiskan betapa leganya kami saat membaca plang kecil dari kayu yang menunjukkan arah Resto Apung. Masih 5 kilo lagi, dan kami harus melalui daerah yang cukup sepi. Konon katanya, daerah dermaga Kedisan itu biasa dipakai untuk boat penyebrangan menuju Trunyan, tempat pemakaman yang cukup terkenal di Bali karena tradisinya yang hanya membaringkan jenazah di bawah pohon. Tapi saat kemarin kami melewatinya, dermaga tersebut sepi cenderung kosong, mungkin sudah jarang wisatawan yang mau menyebrang.

Kami pun akhirnya sampai di Resto Apung Kedisan. Agak ragu awalnya, karena selain jalan masuknya yang sempit, juga dinaungi oleh pohon yang rindang membuat agak bergidik ngeri. Sepi pulak! Tapi saat tiba di tempat parkir dan disambut oleh semilir angin danau, wuidiiih, rasanya sejuk benaar.

Ternyata sedang ada sedikit perombakan, sehingga banyak tukang bangunan yang seliweran bekerja.

Haduuuh, pemandangan Gunung Batur disertai hamparan danaunya terlihat begituuuu memukau. Ditambah semilir angin yang berhembus, menampar wajah. Seger.

gunung dan danau batur

Di restoran ini ada dua bangunan utama, yang satu terletak di pesisir danau terdiri dari satu bangunan tertutup dan beberapa pondok lesehan di pinggiran danaunya. Satu lagi bangunan berada menjorok ke tengah danau terdiri dari 4 rumah kayu tertutup dan satu teras besar yang langsung bertepian dengan danau. Keempat rumah kayu dan teras tersebut terapung diatas danau dengan bantuan hamparan drum kosong yang saling terikat satu sama lain dan ditambatkan ke dasar danau. Untuk menuju rumah-rumah tersebut, kami harus melewati jembatan kayu yang terombang ambing diatas danau. Widiiiw, seru tapi cukup mendebarkan juga, karena ternyata saat kami datang kemarin, air sedang cukup tinggi dan angin bertiup cukup kencang.

bangunan restoran menjorok ke tengah danau

Kami pun memilih untuk duduk di salah satu rumah yang mengapung menjorok ke tengah danau itu. Saat melewati rumah-rumah yang lain, ternyata masing-masing rumah sudah diisi oleh banyak tamu, yang nampaknya berasal dari negerinya SuJu😀

Menu utama yang ditawarkan oleh restoran ini, ternyata semua berbahan dasar ikan nila. Dan ternyata, ikan nila yang disajikan itu didapat dari Danau Batur langsung, ditangkap dan dimasak setelah dipesan. Oiya, berat minimalnya pun ½ kilo per porsi. Hmm, menarik juga. Ada banyak menu ikan nila di sini. Dari ikan nila bakar, ikan nila goreng sampai sup ikan nila. Saya sempat kewalahan memesan, karena ingin mencoba semua. Namun mengingat mulut hanya ada 2, maka akhirnya kami pun memesan ikan nila bakar dan plecing kangkung, dengan minuman es lemon tea dan es teh manis

Sudah pesan makanan, sudah mengagumi keindahan gunung dan danau, eeh kok ya mendadak angin cukup besar berhembus, membuat bangunan-bangunan tersebut terombang ambing cukup keras. Saat itu juga wajah suami saya memburatkan kepucat-pasian. Daripada merusak suasana makan, maka kami pun sepakat untuk pindah posisi ke daerah yang lebih dapat dipijak, alias pondokan lesehan pinggir danau.

Sambil menunggu pesanan, kami pun menghabiskan waktu dengan berfoto dan menikmati keindahan tiap sudut gunung dan danau. Langit saat itu agak berawan, namun udaranya jadi sejuk, tidak panas menyengat, cukup mengasyikkan.

15 menit kemudian, yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Ikan Nila Bakar bumbu base genep yang kami pesan ternyata tidak hanya 1 ekor yang disajikan, tapi ada bonus sebelah ikan lagi (Alhamdulillah… ^__^) Tampilannya pun menawan, tidak gosong, terlihat daging ikannya masih lembab. Porsi Plecing Kangkungnya sendiri juga cukup murah hati. Tidak berhenti disitu saja, masih ada lagi yang amat menggiurkan bagi kami: kehadiran 3 jenis sambal yang menjadi pendongkrak napsu makan kami.

ikan nila bakar (foto ini bukan pesanan kami😀 )

Baiklah, tanpa tunggu aba-aba lagi, tangan kami pun dengan sigap menggali tubuh si ikan. Benar sekali dugaan saya tadi, daging ikannya masih lembab. Kulitnya kering, tapi tidak gosong, dan dagingnya lembut tidak kering. Rasanya? Maknyusss!!!! Lembut, segar dan tidak bau tanah. Ada rasa manis yang hadir saat daging itu terkecap lidah. Dan satu lagi: bumbunya meresap sempurna. Begitu dicocol dengan sambal matahnya, rasa segar semriwing menggigit lidah. Wuidiiihh!! Ini baru juaranya juara!!

Plecing kangkungnya tak kalah segarnya. Rebusan kangkungnya tidak terlalu matang, sehingga masih kriuk segar, dengan siraman sambal terasi plecing yang cukup memelekkan mata yang mengantuk, sehingga tidak perlu takut menghabiskannya.

plecing kangkung (foto ini juga bukan pesanan kami😀 )

Dari tiga jenis sambal yang disajikan, saya lebih suka dengan sambal matah yang pedaaas segar itu dibanding sambal kuning dan merah. Tapi kalau ketiganya dicampur jadi satu, uwih, tonjokannya makin kerasa membelah kerongkongan deh.

Kami makan tanpa bersuara sedikit pun, saking menikmatinya, hanya sedikit diusili oleh tiupan angin yang cukup kencang.

Memang untuk mencapai sebuah kemenangan, harus melalui perjalanan panjang yang berliku dan curam *manggut-manggut bijak* (eh, ini berarti harfiah loh, mengingat perjalanan panjang yang harus ditempuh menuju Kedisan =D )

Oiya, disini juga terdapat penginapan berupa bungalow-bungalow yang mengelilingi danau dan restoran itu. Kami pun melihat ada speed boat juga yang tertambat di pinggir danau, mungkin untuk digunakan menyeberang ke daerah Trunyan.

Berapa yang harus kami keluarkan untuk kenikmatan menyantap makan siang itu? Cukup Rp86.000,00 saja, plus menikmati danau dan gunung batur diiringi semilir angin. MANTAAP!!!

note: foto menu ikan nila bakar dan plecing kangkung tidak diperoleh dari koleksi pribadi, tapi dari koleksi Pak Google, karna kami terlalu rakus hingga lupa untuk mengabadikannya😀 maaf kepada pemilik poto (saya lupa ambil dari situs apa)

4 responses »

    • Waa, saya baru sadar ada komen ini. Maafkaan.
      Mungkin telat ya jawabnya, tapi siapa tau ada sesama bunda yang penasaran sama resto ini, tapi kuatir dengan bayi, nampaknya sih jalur masih aman, karena walau nanjak edan, jalurnya gak panjang.
      Yang pasti worthed lah untuk adventuran 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s