Jalan-jalan Kuliner Bali Pt. 2: Ayam Taliwang Baru, Jl. Teuku Umar Denpasar

Standard

Setelah energi terkuras di Toko Oleh-oleh Erlangga dan Krishna, nampaknya harus segera dikembalikan kesegaran tubuh ini dengan makan besar! Duh, maklum deh, acara belanja belanji itu emang selalu menguras tenaga lebih, apalagi dengan disain lokasi seperti yang dimiliki oleh Toko Oleh-oleh Erlangga yang biarpun dikasih AC 5PK di tiap pojokan toko dan kipas angin berderet-deret di langit-langitnya, tetap tidak bisa menangkis udara panas Bali yang sementlep kalo orang Jawa bilang. Rasanya seluruh cairan tubuh menguap habis membuat otak agak sedikit lambat mencerna stimulus.

Alhasil, kami memutuskan untuk mencoba ayam taliwang versi Bali. Tadinya, mau mencoba Ayam Taliwang Bersaudara (yang cabangnya di Jakarta juga ada di daerah Pangpol dan Tebet itu), tapi kata tukang parkir di Krishna, yang paling deket dari Toko Oleh-oleh itu yang namanya Ayam Taliwang Baru. Ya sudah, kan yang ini tidak ada cabangnya di Jakarta, jadi mending coba yang ini saja deh.

Ternyata jarak rumah makan Taliwang Baru dari Jalan Nusa Kambangan tempat Toko Oleh-oleh Erlangga 2 dan Krishna berada itu, tidak jauh. Hanya sekitar 5 menitan (dengan kelajuan mobil hanya 5km/jam biar gak kelewatan) sudah sampailah kami di restoran ini. Letaknya di pinggir jalan, dan so pasti, sudah berderet mobil terparkir paralel di depan restoran tersebut.

Komentar suami saat tiba di pintu masuk, “waah, pasti pas dia kesini, ni resto langsung tutup’” ujarnya sambil menunjuk foto-foto yang terpajang di dinding. Foto-foto siapakah itu? Tak lain tak bukan adalah Sang RI 1 alias Pak Beye sekeluarga. Aiih, lebay juga ni resto.

Suasana restorannya sendiri sangat rumahan. Terdiri dari kurang lebih 10 meja besar cukup untuk menampung 70 – 100 orang baik di dalam maupun di teras restoran. Ada televisi tergantung di atas counter kasir, lumayan untuk isi waktu.

Saat kami datang, 4 meja besar terisi oleh kelompok-kelompok keluarga besar yang telah selesai menikmati menu pesanannya. Tampak wajah puas kekenyangan tersirat dari wajah mereka, dihiasi dengan mulut yang megap-megap kepedasan. Jadi penasaran juga, seganas apa sih pedasnya ayam taliwang disini.

Menu yang ditawarkan? Ya tentu ayam bakar dan plecing kangkung. Tapi kami memesan 1 ekor plecing ayam bakar dan 1 porsi plecing kangkung, dua nasi putih dan dua es teh manis. Menu lain seperti beberuk terung sudah habis, jadi tak kami coba.

Komentar si mbak pelayannya, “tapi ayamnya kecil mbak ya.”

Ya memang sih, dimana-dimana yang namanya ayam taliwang itu sama saja, porsinya kecil. Satu ekor ayam maksimal ditujukan untuk 2 orang, malah kalau rakus, mungkin hanya untuk 1 orang. Untungnya sih, kami tidak terlalu rakus, jadi satu ekor ayam setengah mungil itu (soalnya gak mungil-mungil banget sih), cukup untuk disikat oleh kami berdua.

Namun, ada peringatan kalau berniat mencoba menu disini, harus siap menanti kurang lebih 15menitan sampai pesanan tiba. Nikmatin aja sambil nonton sinetron atau mengagumi foto-foto Pak Beye yang terpajang (tapi kalo jadi ilang selera makan jangan salahkan si pemasang foto yaaa, hihi).

15 menit kemudian, pesanan kami lengkap tiba. Untuk pendampingnya kami mencomot satu plastik krupuk ikan besar (isi 2). Oiya, ada lagi pelengkapnya: sambal terasi.

plecing ayam bakar, plecing kangkung dan sambal terasi

Sebenarnya, apaan sih ayam plecing itu? Nah, ayam plecing itu sebenarnya ayam bakar, hanya saja, bumbu yang dipakai untuk melumurinya itu cukup pedas dan gurih. Bahkan sebenarnya sih, rasa pedasnya itu kadang sampai membakar lidah. Sama halnya dengan plecing kangkung, hanya saja, plecing kangkung itu kangkung dan taogenya tidak dibakar, tapi direbus/kukus lalu disiram dengan sambal terasi mentah disajikan bersama kacang tanah goreng. Rasa pedas plecing kangkung ini yang bisa membuat hidung meler dan mata menangis.

Bagaimana dengan rasa plecing ayam dan plecing kangkung di Taliwang Baru? Kalau di lidah saya sih, rasa plecing ayam bakarnya masih kalah pedas dari rumah makan Kania Satu di Cakranegara Lombok, malah relatif sudah disesuaikan dengan lidah orang Jawa (padahal kan ini di Bali ya??) Kalau mau rasa yang lebih ‘berani’, musti dicocol dulu dengan sambal terasi yang disajikan bersama ayam tersebut, baru mantaaap.

Nah, kalau saya lebih suka dengan Plecing kangkungnya, yang walau masih satu tingkat dibawah kepedasannya Rumah Makan Kania Satu, tapi rasanya cukup menonjok. Rasa terasinya menonjol, dan pedas rawitnya nyelekit menggigit lidah. Sampai meler hidung ini. Sisa sambal terasi ayam bakar yang melimpah itu bisa dijadikan dipping sauce untuk kerupuk ikan sebagai menu penutup sambil mengistirahatkan perut yang kembali membuncit.

Porsi lauk di restoran ini boleh kecil, tapi cukup banyak untuk dihabiskan berdua (dengan catatan TIDAK RAKUS yaa) Tapi porsi nasinya, hampir sama dengan porsi bungkus nasi padang, jadi benar-benar mengenyangkan.

Bagi kami, makan siang di Taliwang Baru cukup memuaskan dan menghibur cacing-cacing di perut. Siap untuk melanjutkan petualangan di Pulau Bali. Kerusakan yang diderita pun tidak menyiksa dompet, karena menu yang kami pesan itu hanya dihargai Rp60.000,00. Cukup murah-meriah-mengenyangkan kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s