Jalan-jalan Kuliner Bali Pt. 1: Pecel ala Bali di Nasi Pecel Bu Tinuk

Standard

Baru turun dari pesawat, perut udah keroncongan minta diisi. Maklum aja, berangkat dari Bogor jam ½ 3 subuh, dan selama perjalanan hampir 6 jam itu, cacing-cacing dalam perut diterlantarkan begitu saja. Jadilah, begitu tersengat udara panas Bali, mereka kelojotan demonstrasi besar-besaran.

Kali ini, tujuan ke Bali emang menjajali warung makan-warung makan yang ‘katanya’ punya rasa di daerah itu. Salah satunya yang ada dalam referensi adalah ‘Nasi Pecel Bu TInuk’. Alamaaak, kayak di Jawa kagak ada pecel aja ya?

Eniwei, menemukan keberadaan warung makan yang satu ini pun sedikit ‘kebetulan’, gara-gara celingukan di daerah Tuban yang cukup macica mohtar alias muacet jaya itu, mendadak saya melihat spanduk kuning oranye kemerahan dengan tulisan “NASI PECEL BU TINUK” sontak saya langsung menunjuk arah yang dimaksud dan teriak, “Nasi pecel bu tinuk!!!” *berasa liat Hyde keluyuran di Tuban*

Tanpa basa basi, suami pun membelokkan mobil ke tempat yang saya maksud. Cukup banyak yang parkir disitu, padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 10.17 WITA. Mungkin sarapan yang kesiangan seperti nasib kami, begitu pikir saya.

Begitu melangkah memasuki warung makan yang cukup sempit itu, kami disambut dengan etalase makan yang panjang dengan menu yang beraneka macam. Jadi, ternyata gak cuma nasi pecel yang dijual disini, tapi aneka laukan juga ada, semacam nasi rames gitu. Kalo gak suka pecel, ya tinggal minta tanpa pecel aja sama si mbaknya, lalu pilih deh aneka macam laukan yang terpejeng disitu. Ada lodeh, lalu aneka sayuran rebus untuk pecel berdampingan dengan sambal kacangnya dengan aneka rasa juga (pedas, sedang, tidak pedas), lalu ada tumpukan ayam bumbu kuning siap untuk digoreng, segala jeroan ayam, tahu dan tempe bacam, sambal goreng ati ampla, perkedel kentang dan masiiiiiih banyak lagi.

Agak bingung memilih, namun saya memutuskan, biarpun menu utamanya nasi pecel, menu pendamping haruslah mencerminkan Bali banget. Kalau tidak begitu, kan sama aja dong kayak nasi pecel di pulau Jawa, hehe. Jadilah saya memesan nasi pecel dengan kepedasan sedang dengan bonus peyek kacang tanah 2 lembar, ayam suwir bumbu merah (ayam pelalah) dan satu tusuk sate lilit ayam. Minumnya saya pilih es teh tawar. Lucunya, semua menu makan itu disajikan di piring rotan dialaskan dengan kertas nasi coklat dan langsung diberi kartu harga makanan dan minuman. Untuk menu makan yang pesan tadi, harganya adalah Rp11.500,00 sementara untuk menu minumnya, Rp3000,00.

Sementara suami saya memesan menu nasi pecel yang sama dengan saya, namun dengan menu sampingan perkedel kentang dan sambel goreng ati ampla, dan menu minuman es teh manis. Untuk menu dia, harga yang dibandrol untuk makanan adalah Rp13.500,00 dan untuk minuman adalah Rp4.000,00 (jadi, harga gula 2 sendok makan sama dengan Rp1000,00 ya?? *pentingggg*)

nasi pecel bu tinuk pesanan kami

Bagaimana rasanya?

Jreng jreeeeng…..

Satu suap, dua suap, tiga suap, dan kami berdua tanpa ragu menandaskannya dengan wajah yang sama-sama puas dengan menu pilihan kami. Itu tandanya, warung makan ini emang benar “punya rasa” (atau kami yang kelaperan?hihi).

Dalam hal perpecelan, bumbu pecelnya melimpah dengan rasa yang tidak terlalu didominasi oleh kencur maupun daun jeruk, semua dalam komposisi yang pas. Walaupun pesan yang tingkat sedang, ternyata tetap lidah terasa dicubit dengan sengatan pedas rawit yang bertubi-tubi, bikin ingus meleleh dari hidung. Ayam pelalahnya juga berasa banget bumbunya. Pedas dan gurihnya terasa menggoda lidah. Nah, untuk sate lilit ayamnya, menurut saya agak terlalu banyak campuran kelapa parutnya, bumbunya sih terasa medok, tapi mungkin kalau ditambah lagi daging ayamnya, tentu akan terasa lebih maknyus, hehe.

 

pesanan saya: nasi pecel+peyek, ayam pelalah & sate lilit ayam

Kalau perkedel kentang dan sambal goreng ati ampla pesanan suami saya, boleh saya bilang rasanya pas, sebagaimana perkedel kentang dan sambal goreng ati ampla seharusnya, nothing special (pesanannya standard banget sih Maaas :D)

Sayangnya, saat makan disitu, sedang ada perbaikan jalan, jadi bising dengan suara bor yang memekakkan telinga. Kebayang kan, udah panas mentrang-mentrang, jalanan berdebu, suara bising pulak, cakep banget deh. Untungnya, menu sarapan kami memuaskan, jadi cukup terhibur.

Oiya, saya lupa bilang, porsi makan di warung ini amat sangat bijaksana dan murah hati, jadi jangan takut masih kelaperan deh. Keluar dari situ, pasti ukuran celana naik satu nomor😀

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s