Bahagia itu Sesederhana Sepiring Sop Ikan Kakap Bu Ndut Semarang

Standard

Dongeng mengenai sepiring sop ikan sederhana yang tak pernah sepi pengantri ini selalu didengungkan oleh suami saya semenjak dirinya kembali dari tugas di Semarang beberapa waktu silam. Saking silamnya saya sampai lupa kapan tepatnya. Yang jelas, setiap kali menikmati sop ikan di mana pun di penjuru Jabodetabek, pasti dongeng sop ikan Semarang ini diperdengarkan kembali. Dan selalu ditutup dengan kalimat, “pokoknya, kamu WAJIB nyobain deh kalo kita ke Semarang.”

Hari demi bulan berganti tahun, Semarang belum juga jadi destinasi trip iseng kami, dengan ragam alasannya, dan saya pun tak lagi menaruh harapan tinggi dengan misi penyicipan sop ikan yang melegenda itu. Sampai satu ketika, saat rasa penasaran itu hampir pudar, suami pun mencetuskan ide untuk roadtrip ke Jogja. Tanpa mikir dua kali, saya pun langsung merancang rute perjalanan, dengan tentunya menyisipkan Semarang sebagai kota singgah pertama untuk dinikmati seharian.

Roadtripping di masa sekarang ini memang selalu lebih mudah dengan adanya aplikasi GMaps dan Waze. Dan yang melegakan, warung sop ikan tujuan kami ini pun ada di kedua aplikasi tersebut. Yippeee!!!

Tiba di Semarang tepat di tengah teriknya mentari menyegat tubuh ini, tujuan pertama kami tentunya adalah Sop Ikan! Mbak-mbak Waze mengarahkan kami ke gedung Bank Mandiri yang terletak di Jalan Pemuda untuk memarkirkan kendaraan.
Saya sempat celingukan kebingungan, karena tidak ada tanda-tanda atau tulisan yang menandakan keberadaan Warung “Sop Ikan Kakap Bu Ndut” di sepanjang jalan tersebut. Sempat meragukan keakuratan ingatan suami saya, tapi kan Waze pun menunjukkan posisinya di sekitaran sini.

Ternyata, setelah mengkonfirmasikan keberadaan warung tersebut kepada tukang parkir, warung sop yang dimaksud berada di samping gedung BCA yang adanya tepat di seberang Bank Mandiri. Jujur sih, saya masih agak ragu saat menaiki tangga penyeberangan jalan, walau sudah diyakinkan oleh tukang parkirnya, karena yang berada di samping gedung BCA itu tak lain adalah… tanah kosong berdinding tembok dengan pintu gerbang seng tebal yang terbuka sedikit. Seriusan ada warungnya di situ, atau sudah pindah tempat?
Namun jawaban atas kekhawatiran saya terungkap setelah saya berada di puncak jembatan dan nun di dalam tanah kosong itu, teronggoklan sebuah bangunan sederhana yang mengepulkan asap. Di depan bangunan itu terdapat spanduk kecil bertuliskan “WARUNG SOP KAKAP BU NDUT
Sontak saya berseru, “Alhamdulillah!”
Gak jadi deh saya meragukan ingatan suami, hihihi.

Kami tiba tepat jam makan siang, dan saya tidak menyangka kalau tempat tersembunyi seperti ini, pengantrinya bejibun banyaknya. Mungkin kalau warung sop ini ada di Jakarta, yang ngantriin udah babang-babang ojek online, sementara kita asik ngegosip dalam ruang berAC nunggu pesanan tiba, hehehe. Tapi memang justru sensasi makan di tempatnyalah yang bikin seru.

Warung Sop Ikan Kakap Bu Ndut ini bahkan dari penampakan bangunannya saja bisa dibilang sangat sederhana. Hanya sebuah bangunan dapur yang selalu ngebul dengan teras yang dijadikan etalase makan sekaligus jejeran bangku dan meja kayu panjang panjang mengitarinya yang menjadi tempat kami makan. Bahkan di bawah pohon depan teras pun dijejerkan bangku dan meja kayu panjang untuk menampung pengunjung yang tidak kedapatan tempat di teras. Mungkin istilahnya outdoor dan semi outdoor ya kalo di resto-resto modern.

Begitu kami mendekati etalase makan, di baliknya sudah ada mba-mba yang menyendokkan nasi dan sambal ke piring, lalu menyerahkannya kepada kami. Kayak ke kondangan ya, hehehe. Di meja selanjutnya, seorang bapak tua dengan anteng menuangkan sup ikan dari panci besar, seporsi demi seporsi ke piring-piring kosong yang dengan cepat berpindah tangan ke para calon penikmatnya. Pilihan lauk tambahan pun menghiasi etalase, dan kita tinggal memintanya kepada ibu yang berada di balik etalase itu. Saya memilih polos saja, hanya nasi dan sop ikan, ditambah es teh (yang tetep berasa manis walau semi jambu)

sop ikan bu ndut (1)

Nasi Putih, sambal bawang, es teh semi manis, sop ikan (baru inget moto setelah 1/2 porsi habis)

Kalau mau makan di warung ini, jangan coba-coba datang lalu sibuk memilih-milih tempat duduk yang strategis, atau ingin satu meja hanya bertiga atau berempat dengan kawan seperjuangan, karena itu sulit sekali bisa terwujudkan. Saat kami datang, warung ini PENUUH, baik semi outdoor maupun yang outdoor dan kami pun diwajibkan untuk mau berbagi tempat dengan sesama pengunjung di bangku dan meja panjang yang tersebar di situ.
Jangan sungkan untuk bergabung dengan orang lain, ya.

Waktu yang dinanti-nanti untuk membuktikan kedahsyatan sop ikan ini bukan hanya sekedar dongeng, pun tiba. Sop ikan di warung ini, disajikan dalam piring (iyaa, piring bukan mangkuk) bekung, terdiri dari 5 – 7 potongan ikan yang cukup besar, dengan kuah bening berwarna kuning.
Sudah. Cukup. Itu saja.
Tidak ada yang menemani ikan-ikan itu berenang dalam kuah kuningnya, seperti sayuran, atau protein lain. Sangat sederhana, sesederhana perwujudan warungnya itu sendiri.

sop ikan bu ndut (2)

Penampakan Sop Ikan yang ‘kumplit’

Penampakan sop ikan ini, sekilas mengingatkan saya pada penampakan sop ikan Mak Beng di Sanur, Bali. Hanya saja, minus potongan timunnya. Warna kuahnya sama-sama kuning, agak berminyak. Namun yang ini sedikit lebih kuning dan keruh.

Saat mengaduk-aduk kuah sop (masiiih dengan harapan menemukan potongan sayur tersembunyi 😀 ), aroma kunyit yang segar menguar diantara aroma gurih sop. Daaan, saat sesendok kuah saya seruput pelan, saya pun pada akhirnya telah membuktikan, bahwa dahsyatnya sop ini tidak hanya sekedar dongeng belaka. Apalagi setelah potongan ikan yang lembuuuut sekali itu bergleyer di dalam kerongkongan. Ikannya tidak amis sama sekali,  lembutnya kebangetan dan rasa kuahnya gurih sedikit berjejak rasa manis, mengingatkan saya bahwa sudah berada di dataran Jawa yang legit.
Rasa sop ini akan semakin komplit saat disatukan dengan sambal bawang tadi. Jadi lebih kena di lidah saya.  Gurih, sedikit manis dengan sengatan pedas, mengejutkan pengalaman menikmati sop ikan ini

Percaya atau tidak, saya sampai nambah sop ikannya, dimakan tanpa nasi, di bawah pohon rindang di depan teras makan warung itu. Rasanya justru makin tambah nampol, akibat semilir angin dingin mengusir gerah. Apa lagi setelahnya kerongkongan ini diguyur es teh semi manis. Hmmm, cihuy lah.

Sekarang, saya paham kenapa warung ini, walaupun sederhananya kebangetan, tapi yang ngantriin gak sederhana sama sekali alias gak sepi! Padat! Karena memang rasa masakannya enak pake banget BANGET.

Oh ya, satu lagi pelengkap kebahagiaan siang itu adalah pada saat proses pembayaran. Mendengar ibunya menyebutkan harga 28 ribu rupiah untuk 2 piring nasi putih, 3 porsi sop ikan dan 2 gelas es teh, berasa dinyanyiin lagu dari surga. Murahnya parraahh ini!
Bayangkan, berdua makan sampe puas kekenyangan seperti itu, udah nambah sop ikan pula, harganya sama kayak makan sendiri di kantin-kantin Jakarta, pake nasi, ayam, sayur dan tahu, yang belum tentu rasanya dahsyat kan.

Ngerilah Semarang, kalau seperti ini sih, bisa maksa tiap bulan roadtrip demi sepiring sop ikan, hahaha! (ngareep)

Sebenarnya, warung Bu Ndut ini tidak hanya menyajikan sop ikan saja, tapi juga lauk pauk lainnya, sebagaimana warung makan pada umumnya. Kalau saya perhatikan, selain sop ikan, ada satu lagi menu yang selalu dipesan oleh para pengunjung warung, yaitu bebalungan.
Karena tujuan utama saya ke warung ini hanya ingin mencicipi sop ikannya, maka saya pun tidak memesan menu tersebut. Mungkin lain kali, kalau iseng-iseng nge-trip ke Semarang, bolehlah menu lainnya saya icipi.

Satu hal yang bisa dipelajari dari sepiring sop ikan kakap Bu Ndut adalah, jangan selalu meragukan kesederhanaan penampakan sajian makanan APAPUN. Karena rasa yang kaya bisa saja hadir di sajian yang tampak sederhana.

Cheers to life!

Advertisements

Seirock-ya Ramen Jakarta : (literally) chicken soup for the soul

Standard

Satu-satunya hal yang amat saya syukuri dari lokasi tempat kos saya adalah keberadaan kedai mie Jepang yang satu ini: Seirock-ya Ramen.

Gak lebay, tapi kenyataannya memang begitu.

Bukan cuma karena lokasinya yang amat sangat strategis dari tempat kos (tiga kali koprol sampe) tapi kedai ramen ini adalah kedai yang nyajiin ramen TANPA babi. Yup! Benar saudara-saudari sebangsa setanah air, No Pork Ramen adalah tagline yang diusung gede-gedean sama kedai ini, bahkan dari sejak kedai ini masih dalam tahap disaining. Eye catchy banget logo kedainya yang berupa ayam jago itu, dipajang dengan tagline No Pork Ramen. Mangkanya, dari sejak ini kedai masih bangun dapur, saya udah wanti-wanti ke suami, “pokoknya, begitu buka, kita makan situ yaaa!!” Ditungguin dari bulan puasa sampe kelar lebaran, belom juga ni kedai buka. Tapi penantian penuh kesabaran itu memang selalu membuahkan keindahannya (iyaaa, klo ini sih lebay).

Cuma, ternyata gak langsung saat soft opening saya bisa hadir di kedai itu memenuhi undangan saliva😋 maklumlah yaaa, pulang kantor udah malem, yang menggoda napsu ngehajar emosi tuh ya nasi segunung plus dendeng berkuah ato gulai kikil gituuuu (there how i gained my 3kilos in a month😂😂)

Dua minggu setelah opening, kami iseng pengin coba. Guess what? We were the only guests there😃

Pas masuk, suasana yang langsung nyambut adalah calming ala Jepang (sok kayak udah pernah aje ke Jepun non). Disain kedai ini dominasi kayu coklat, abu semen, dan pencahayaan yang keemasan di dindingnya. Lampu atas sih tetep cerah. Konsep kedainya, semi open kitchen, jd chef dan tamu bisa saling intip klo keabisan gaya. Pelayannya cukup banyak untuk kedai ukuran sedang dan dipilih yang kurus, manis, lincah. Lagu yang dipilih untuk menemani juga klasik Jepang model Kitaro gitu.

Eniwei, skip the detail, let’s see the menu.

😮

Jujur saya bingung liat menunya. Gak familiar. Memang ditampilin foto juga sih, tapi semua nampak sama. Kuahnya keruh dan terlihat mirip susu. Bolak balik buku menu berlembar 4 kok kayaknya makin terlihat bodoh disaksikan 10 pasang mata pelayan dan chef yang mengintip dari balik dapur. Alhasil setelah nyerah, manggil pelayan dan diskusi panjang, dipilih deh Toripaitan Shoyu Ramen (untuk suami) dan Toripaitan Miso Ramen (buat saya). Minumnya ocha dingin tanpa es 😀

Gak tunggu lama (secara cuma kami berdua tamunya yee) datanglah pesanan kami.

Oke. Here’s the truth. Dalam hidup saya, makan ramen itu cuma di dua kedai: daiji (di bogor) dan sanpachi. Pernah sekali makan di kelapa gading, tapi lupa nama kedainya, dan ragu banget itu halal apa kagak 😅 Jadi bisa dibilang kalo saya gak expert-expert amat sama rasa ramen.

Yang hadir dihadapan kami adalah satu mangkuk (kecuali boleh bilang panci siiih) ramen dengan kuah kental keruh mengepul dihiasi sepotong chasu ayam, sejumput sayur hijau, daun bawang, selembar nori, sejumput rebung dan sebutir telur puyuh. Itu template sajian orisinil disini. Menarik ya.

Namun, perlu adaptasi yang cukup panjang bagi saya untuk menerjang sumpit diantara juntai ramen, yang membuat aroma kuah menguar ke angkasa raya. Why? Karena setiap terjangan itu menguarkan aroma semacam aroma telur rebus. Semi amis kali ya.

Toripaitan miso ramen yang saya pesan, ternyata terlalu gurih dan kental di lidah saya. Sementara pesanan suami terasa lebih ‘light’ dan menyenangkan.

Keberadaan sayur hijau dan rebung membantu saya menandaskan kuah kental itu. Nampaknya, berbeda dari bayangan saya tentang ramen miso yang biasa saya pesan.

Wah, kenapa ceritanya jadi bertolakbelakang sama kesan yang disampein di awal ya?

Tunggu dulu.

Saya bukan tipe yang berenti penasaran kalo kaitannya sama makanan. Jadilah, selang sebulan, nyerah juga sama rasa penasaran akan racikan kuah ramen itu, kami kembali datang untuk kedua kalinya.

Saat itu tamunya sudah bertambah, dan karena lokasinya mungkin banyak expat jepang korea, makanya tamunya juga ada yang jepang & korea. Yah, yang punya kost an saya pun bersuami Jepang, dengan mayoritas okupansi dari tanah kelahirannya.

Kali ini pesanan saya jatuh ke Toripaitan Shoyu Pedas sementara suami tetap yang orisinil.

Saat pesanan saya datang, sempat saya kira salah, karena bayangan saya, kuahnya sudah merah meronakan minyak cabai. Tapi yang datang, ramen yang template penyajiannya sama persis dengan yang sebelumnya. Sempet mau protes, tapi ternyata setelah ditilik, ada gumpalan merah sebesar 1/2 scoop es krim diantara topping ramen itu.

Ooh, ternyata pasta cabenya tidak langsung dicampur dalam kuah, tapi pelanggan diberi kebebasan meracik level pedas yang bisa dinikmatinya. Kalo masih kurang pedas, monggo segentong juga boleh kok kalo sanggup mah.

Sebelum mencampur pasta cabenya, saya seruput kuah toripaitan shoyu itu. Hmmm, kali ini saya mulai membiarkan lidah saya meresap semua rasa yang ditawarkan, tanpa melawan atau menghakimi. Completely enjoying every single sruputan. So creamy dengan rasanya yang penuh (definisi rasa macam apa ini??), seperti semua bintil lidah dibangunkan untuk mencecap aneka rasa yang hadir menyelimutinya. Dielus lembut, diselimuti dengan rapi sampai menyerap ke dalam. Memang ada sekilas aroma telur atau amis, tapi lambat laun berubah menjadi wangi kaldu ayam yang intens. Seperti berkubang dalam kaldu ayam yang kental.

Dan saat mencampurkan pasta cabenya, mendadak bintil lidah saya dikagetkan dengan tarian liar yang membangunkan. Seakan, yang tadinya lidah ini dininabobokkan dengan belaian kaldu yang creamy, dibangunkan untuk mengikuti liukan liar yang penuh tantangan. Rasa pedas yang terindera memang tidak seganas ulekan 15 cabe rawit gadingoranye yang cihuy mampus itu, tapi cukup menendang dan membuat lidah berdansa dansi.

Dan saya pun ikut berdansa puas telah menemukan kecintaan di kedai ramen ini. Mungkin ini yang disebut chicken soup for the soul, karena menyeruput kuahnya, bikin kita bahagia seketika😊😊

Tapi ramen disini gak cuma kuahnya yang bikin happy. Toppingnya juga menyenangkan. Setiap ramen orisinil pasti sudah termasuk chasu ayam, telur puyuh, rebung, sayur hijau, nori dan bawang daun.

Paling enak rebung dan sayur hijaunya, kres kres menyegarkan, disela penuhnya rasa yang ditawarkan si kuah, menjadi selingan mengasyikkan. Ramennya, keriting kenyal sempurna, membuat kuah nempel di tiap juntaiannya. Hmmm…. a sluuurp is never enough lah.

Mungkin sudah genap 10 kali saya mampir ke kedai ini, dalam 2 bulan terakhir dan memesan hampir menu yang sama: Toripaitan Shoyu Pedas, tanpa telur puyuh, dibanyakin rebungnya.

Eh, tapi sebenernya yang hits disini itu adalah Toripaitan ekstrim ramen. Beeuuh. Dengernya aja udah jiper. Ekstrim apa tuh.

Well, jadi begini, ini kedai ramen kan udah bilang dari depan pintunya, masang gede-gede tagline NO-PORK RAMEN, well indeed. Instead of menggunakan tulang belulang babi yang direbus sekian jam buat kuahnya, Toripaitan menggunakan tulang, sayap, dan entah bagian apalagi dari ayam. Direbus berjam-jam sampe kental seperti susu. Mungkin ada teknik tertentu yang beda-beda dalam membuat Toripaitan ini ya, saya juga gak paham.

Eniwei, ekstrim yang dimaksud di kedai ini, bukanlah ekstrim cabe ato pedes. Tapi, ekstrim kolagen yang dihasilkan dari rebusan tulang, sayap ayam. Katanya sih, kolagen ini dipuja perempuan karena bisa bikin kulit kinclong awet muda. Hmmm, minum rebusan tulang ayam aje yee klo gitu.

Nah, di kedai ini Toripaitan ekstrim hadir dengan ekstra topping bawang goreng dan seiiris lemon disajikan di pinggir mangkuk.

Pertama kali pesen ini menu, tidak terlihat bedanya, kecuali agak lebih keruh dan berminyak. Diseuseup sedikit tanpa perasan lemon, menurut saya, kuahnya lebih berat dan oily. Sedikit manis dari bawang goreng hadir menyelingi. Namun, saat dikucuri lemon, rasanya langsung ceria. Ada semriwing segar disela juntai ramennya. Ramennya juga tidak sekeriting dan sekecil yang biasa. Agak lebih lurus, mungkin baru diblow 😄

Menarik rasanya. Mungkin akan jadi pilihan kedua setelah Toripaitan Shoyu Pedas (teteeeuup)

Oiya, disini juga disediakan ramen dengan kuah bening, maupun ramen yang makannya terpisah antara ramen dan kuahnya disebut tsukumen. Mau nasi? Adaaa, pilihan donburi dan curry nya lumayan. Walau belum pernah coba 😁

Cemilan wajib gyoza juga adaaa. Pilihannya ayam, udang dan pedas. Saya sih suka pesan yang ayam aja, walau udang lebih enak. Maklum, yang ayam lebih murahhh😆  (kan anak kooosss). Gyoza panggang dicelup cuka, hmmm enyak. 29ribu isi 6.

Untuk harga seporsi ramen antara 42-58 ribu klo tidak salah. Saya cuma ingat harga favorit saya, 47rebu 😜

Pokoknya, standar berdua sama suami dengan menu Toripaitan Shoyu Pedas dan Ocha yang bisa refill, merogoh 125ribu rupiah. Lumayaaan, jatah abis gajian, nongkrongnya dimari, hihihi. Ato setelah dapet rejeki sampingan.

Apapun alesannya, adaa aja kok buat bikin saya mampir lagi dan lagi kemari, demi semangkuk ramen ini.

SeirockYa Ramen

Sayangnya, sampe detik saya nulis dongeng sebelum tidur ini, ntu kedai belom juga nyediain mesin edc, jadi agak rempong ya ceu rogoh-rogoh dompet nyari recehaaan😁

So, mau nyobain ramen tak berbabi? Monggooo kemari, ke Seirock-ya Ramen Jakarta, di bilangan Radio Dalam. Gampang nyarinya. Klo anak bengkel, pasti tau Nawilis kan? Nah, dari Nawilis ke arah Pondok Indah, lewati 5asec, grup ruko sampingnya, muncullah si ayam jago itu.

Met icip-icip dan pulang bahagia ya. Boleh juga kok sekalian ajak saya ya. 2 menit jalan kaki dari kos saya langsung hadir manis disana, tapi Traktir yaaaa 😆😆😆

cheers!!

update per Januari 2016:

Jadi, ternyata selain di Radio Dalam, Seirock-ya Ramen juga udah buka cabang kedua di Ramen Village Aeon Mall dan cabang ketiga di Grand Sahid Jaya Sudirman. Hmm, jadi lebih banyak pilihan tempatnya kan? Apalagi buat yang kantornya di Sudirman, pas lagi ngidam ramen tapi gak mau ke mall, bisa cus maksi di Seirock-ya.

Daaan, kabar yang lebih bae lagi, sudah tersedia mesin EDC untuk transaksi dengan debit BCA. Syenangnya saya, gak rempong lagi nyari ATM terdekat untuk nyobain semangkuk shoyu ramen, sepiring gyoza panggang dan segelas ocha dingin, hyooossshh!!

Jadi, maksi ramen kita? Hyuuukkk 😀

Pondok Mina, Karangasem – Kuliner Gurame yang Nonjok Tenanan di Timur Bali

Standard

Berhubung saya didaulat sebagai EO liburan keluarga ke Bali beberapa waktu lampau, browsing tempat makan adalah salah satu tugas harian saya menjelang liburan. Kalau daerah tujuannya Kuta, Legian, bahkan Ubud sekalipun, mungkin bukan tugas sulit mencari tempat makan enak, dan so pasti HALALAN TOYYIBAN ya bow. Lalu bagaimana nasib kalau daerah tujuan wisata itu adalah Karangasem? Daerah yang kalau dilihat di peta aja kok kayaknya, antah berantah gitu ya?

E tapi jangan salah, ternyata setelah browsing sana sini, banyak juga loh referensi makanan halal di Karangasem. Dan salah satu yang selalu disebut adalah Pondok Mina.

Awalnya, saya agak sangsi apakah pengantar tamu kami mengetahui letak rumah makan yang satu ini. Namun ternyata, saat saya bertanya, dimana rumah makan halal yang enak di Karangasem, Pak Widi tanpa ragu menyebut nama restoran yang satu ini. Legalah saya. Apalagi, Pak Widi menyebut bahwa restoran ini memiliki menu masakan gurame yang mantap.

Tak harus menunggu lama, karena jarak rumah makan ini dari Taman Ujung Soekasada ternyata hanya sekitar 20 menitan (tergantung ketangkasan supir menghandle truk-truk pengangkut pasir/batu lawan main di jalan sih sebenarnya), kami tiba di tempat yang dimaksud. Pondoknya sederhana, bahkan tanda penunjuk restoran ini pun sederhana. Parkirannya sendiri mungkin hanya cukup untuk maksimal 10 kendaraan dempetan. Pondokan makan ini terdiri dari dua bagian, dua gazebo besar di atas kolam-kolam ikan dan sekitar 2 ruangan besar di bagian belakang yang terdiri dari puluhan meja dan kursi. Menipu juga tampilannya dari depan 😀

signage Pondok Mina sumber: http://wisatakuliner.com

signage Pondok Mina
sumber poto: http://wisatakuliner.com

Kesederhanaan tidak berhenti disitu. Daftar menu pun hanya terdiri dari selembar karton tebal berlapis plastik yang isinya mungkin hanya sekitar 10 jenis masakan dan 5 jenis minuman. Sayur? Tidak ada menunya disini, hanya masakan berbahan dasar ikan gurame dan udang, serta nasi putih. Minuman pun tidak ada yang macem-macem seperti es teler atau es campur, hanya teh (manis/tawar) atau jeruk (panas/dingin), atau minuman botolan pokoknya sederhana POLL lah judulnya.

Saya memesankan gurame goreng 2 porsi dan gurame pepes 1 porsi untuk makan siang keluarga besar dengan 12 mulut yang harus disuapi. Tentunya ditemani dengan nasi putih.

Oiya, satu lagi, TIDAK dicantumkan harga makanan di karton menu itu. Ini menimbulkan dilema kan? Yang jelas, gak tenang deh nebak-nebak harganya. Walau saya sudah sempat dapat bocoran harga lewat review di internet, tapi tetep aja kaann???

Nunggunya emang agak lama, mungkin kurang lebih 20 menitan lah ya. Dan biarpun Pondoknya terkesan sederhana, tapi percayalah, PEMANDANGANNYA GAK SEDERHANAAA!!! Letak restoran ini di pinggiran bukit yang menghadap ke teluk. Jadi gak bakal bosen deh menikmati laut nun jauh di sela teluk sana. So over-calming.

Dan bagaimana dengan penantian si gurame? I know, it was a long time to wait, BUT it was…. SUPER WORTHED!!!

Seriusan deh, itu gurame goreng yang datang, masih puanaaas buener, ukurannya besar, bisa untuk 4 orang, dagingnya pun tebal. Tapi biar besar dan tebal, keunggulan gurame goreng di Pondok Mina ini adalah lapisan luar ikan tergoreng garing kemeripik, tapi dagingnya msh lembab. Rasa dagingnya manis, tidak amis atau bau lumpur. Lalu bumbunya menyerap sampai ke tulang-tulang ikannya (percayalah, saya si pengeruk sampah ikan ini terpuaskan pokoknya) dan sirip-siripnya bisa dikramusin layaknya krupuk 😀

menu: gurame goreng sumber poto: http://wisatakuliner.com

menu: gurame goreng
sumber poto: http://wisatakuliner.com

Untuk pepes guramenya, gak kalah spektakulernya lah. Bumbunya paaas bener. Pedes pedes gurih, dengan rasa alami daging ikannya yang masih terkecap sempurna. Hmm…
Mengingatnya malah bikin saya pengen ke Bali lagi, khusus ke Pondok ini.

menu: gurame pepes sumber poto: http://wisatakuliner.com

menu: gurame pepes
sumber poto: http://wisatakuliner.com

Oiya, kalo tadi saya sempat bilang di menu tidak dicantumkan masakan sayur, tak usah kecewa, karena setiap hidangan gurame datang dengan side dish berupa rebusan kangkung dan toge yang disiram sambal terasi, lalu tak lupa kacang tanah goreng garing. Namanya plecing kangkung. Seperti masakan Lombok ya? Namanya juga tetanggaan sih.
Dan seporsi nasi putihnya….. buanyaaak buanget 😀 super kenyang lah yaa

Lalu, setelah semua hidangan tertandaskan hingga ludes des des, the moment of truth is here to reveal. Berapa yang harus kami bayar untuk: 2 gurame goreng, 1 gurame pepes, 11 nasi putih, 4 teh manis panas, 2 aqua 600ml, 2 teh tawar, 1 kopi hitam, 2 krupuk? Rp223.000,00 SAAJAAAAHH.

Suami saya sampai berasa kaya bener ngeluarin dompet dengan penuh percaya diri *ngikik guling-guling*
Ini gara-gara pengalaman sebelumnya, dimana kami makan 3 ekor ikan yang serupa, tapi harus membayar 3 kali lipatnya. Ya namanya juga yang satu lokasinya di antah berantah, yang satu lagi di Ubud yeee 😛

Lalu karena saya gak pernah ingat dokumentasi klo udah disodorin makanan beraroma sedap yang menguar, maka saya pun menghiraukan kamera yang udah menanti untuk digunakan jasanya mengabadikan si gurame goreng aduhai itu. Maapkeeun, saya memang pada dasarnya bukan foodblogger yee… 😀

Jadi, foto-fotonya dari sini aja yaaa: wisata kuliner

 

Taman Soekasada Ujung Karangasem: Sisi Lain Tujuan Wisata di Bali

Standard

Bali memang identik dengan objek wisata Pura-nya. Dari yang terletak di tengah Danau Beratan (Pura Ulun Danu), di kaki Gunung Agung (Pura Besakih) maupun di bibir tebing (Pura Luhur Uluwatu), you name it lah, dimana ada Pura, disitu bisa jadi objek wisata 😀 Tapi, bagi keluarga yang mulai bosan mengunjungi pura (seperti kami ini 😀 ), di Bali juga terdapat objek wisata yang tak kalah menarik dan menantangnya.

Menantang, karena untuk menuju objek wisata ini, dibutuhkan waktu sekitar 2 – 3 jam dari areal Jimbaran, dengan kondisi jalanan berliku-liku yang membelah perbukitan, dan berbagi jalan raya dengan deretan truk pengangkut pasir/batu kali dan juga babi liar yang berseliweran seenaknya nyebrang.
Jujur saja, untuk kondisi menantang seperti ini, saya tidak yakin akan sanggup menjalaninya bila harus menyetir mobil sewaan sendiri *nyali cere :D*. Untuuung kali ini, kami memutuskan untuk menyewa mobil plus supirnya *dadah dadah sama peta* 😀

Obyek wisata tujuan kami ini tergolong amat menarik, karena terletak di sebuah teluk yang dikelilingi perbukitan yang hijau dan sejuk, namun terbuka bebas menghadapi lautan lepas yang tenang-tenang menghanyutkan.

Apa sih obyek wisatanya?
Namanya Taman Soekasada Ujung Karangasem. Letaknya memang di daerah timur Bali yang cukup jauh, di Kabupaten Karangasem. Menurut Pak Widi, pengantar kami, hanya sedikit orang yang mengetahui keberadaan taman ini, selain karena jaraknya yang jauuuh dan jalanan yang berkelok-kelok, daerah laut sepanjang Karangasem ini mayoritas hanya diperuntukkan bagi mereka yang gemar diving. Karena disini ada banyak spot-spot diving menarik. Sehingga memang turis yang ke daerah ini, adalah mereka yang punya tujuan utama: diving. Oow….
Pantas saja jalanannya suepiii tenanan, cenderung syerem juga kalo kesorean di tengah hutan antah berantah begitu, puuun jalanannya sempit yeee. Bae-bae kecemplung jurang kalo telat belok sekian detik 😀

Taman Soekasada Ujung Karangasem ini ternyata dulunya adalah kompleks peristirahatan Raja Karangasem yang bernama Raja I Gusti Bagus Jelantik. Kondisinya memang tidak lagi megah seperti jaman dulunya, karena berdasarkan literatur sejarahnya, kompleks ini pernah hancur karena letusan Gunung Agung di tahun 60-an. Beruntung, pemerintah kabupaten Karangasem secara bertahap mencoba untuk memugarnya kembali, demi pelestarian budaya dan juga memberikan pilihan tujuan wisata bagi mereka yang bosan dengan Pura dan Pantai, seperti kami ini 😀

tampak atas - sumber: http://denpasarcultures.blogspot.com

tampak atas – sumber: http://denpasarcultures.blogspot.com

Untuk masuk ke kompleks taman yang cantik ini, pengunjung akan diarahkan untuk memasukinya melalui gerbang dekat parkiran, dimana kita harus membeli tiket masuk seharga Rp20.000,00/orang (anak kecil tidak dihitung), lalu menyebrangi jembatan panjang, dengan kolam-kolam ikan dibawahnya, menuju kawasan utama taman.

Nah, di kawasan utama taman ini, terdapat sebuah danau buatan yang cukup luas dan dipagari patung-patung tokoh pewayangan bali. Danaunya dihiasi dengan teratai dan beberapa ekor angsa putih yang jangan coba-coba didekati kalau tidak ingin disosor 😀
Di atas danau inilah rumah utama peristirahatan itu dibangun yang untuk mencapainya, kita harus menyeberangi danau melalui jembatan sempit.

Bangunan utama rumah peristirahatan ini sendiri memang tidak luas. Hanya terdiri dari 4 kamar yang saling berhadapan, dilengkapi dengan 2 buah teras yang terletak di depan dan di belakang rumah, menjadi penyambung jembatan sebrang tadi.

rumah peristirahatan utama

rumah peristirahatan utama

Setting lokasi taman ini memang cucok sekali untuk foto-foto keluarga besar. Itung-itung latihan menjadi keluarga kerajaan yang lagi beristirahat di villa deh yaa *ditendang raja ke kolam 😛 *

one big happy (royal) family :D

one big happy (royal) family 😀

Selain bangunan utama tersebut, sebenarnya taman ini masih memiliki beberapa spot yang menakjubkan dan breathtaking. Literally breathtaking! Karena memang untuk menujunya diperlukan cadangan kaki dan paru-paru, mengingat harus menanjaki sekian ratus anak tangga. Maklum, kontur tanahnya berbukit ya bow.

Salah satu spot yang menarik, dan menjadi tujuan utama taman ini, sebenarnya saat ini sudah berupa puing pilar berjumlah 10/12 yang berbentuk lingkaran disebut sebagai Bale Kapal. Bentuk pilarnya mengingatkan saya pada bentuk Pathenon di Yunani (emang udah pernah kesana bu??? 😀 )
Bale Kapal ini terletak jauuuh tinggi di atas sana, sehingga merupakan spot paling oke untuk menikmati kecantikan seluruh bagian taman serta menyaksikan langit dan laut berkecupan mesra di ujung cakrawala sana.
Spot sakti andalan untuk prewed sih sebenarnya 😀

bale kapal sumber: http://wherewasitshot.com

bale kapal
sumber: http://wherewasitshot.com

Sayangnya, saat kemarin, saya tidak menyempatkan diri untuk mendakinya, dikarenakan keterbatasan waktu (alaaa, bilang aja faktor U!!! 😀 )

Beberapa spot menarik lain juga terdapat di kompleks taman ini, yang gak kalah menyiksanya karena kembali harus menanjaki anak tangga, sehingga saya memutuskan untuk tidak menjelajahinya, setelah melihat gumpalan awan hitam yang berarak di langit atas.
(keluarga kerajaan macam apa sih Raja Karangasem ini, bikin villa kok nyiksa diri pake manjat-manjat segala! *kibas rambut* :P)

Menurut Pak Widi, jaman dahulunya, untuk menuju ke rumah peristirahatan ini, diperlukan waktu berhari-hari dan harus menaiki kuda. Ya salam aja sih kalo jalan kaki mah 😀

Nah, tak jauh dari lokasi Taman Ujung ini, sebenarnya ada lagi taman yang tak kalah spektakulernya, yaitu Tirta Gangga, juga masih merupakan kompleks peristirahatan Raja Karangasem. Sayang sekali, kemarin cuaca sedang tidak mendukung. Hujan deras mengguyur Bali. Gak seru ya, maen-maen di taman bawa-bawa payung gitu, bae-bae kepleset nyemplung kolam yaaa 😀

Tak apa, suatu saat nanti, saya akan kembali ke Karangasem lagi, mengunjungi taman Tirta Gangga dan Taman Ujung ini, dan tentu saja pada saat itu, saya HARUS menanjaki anak tangga, menikmati ketinggian dari Bale Kapal Taman Ujung. HAAARUUUSS. Aamiiin.

Psst, jangan takut untuk kelaperan dan gak nemuin restoran layak dengan menu yang syyedap, karena di daerah ini, ada restoran dengan menu guramenya yang enaaak deh. Penasaran kaaan? 😛

 

note:

mohon maaf koleksi poto pribadi tidak banyak, jadi terpaksa nyomot dari kolesi Mbah Google. tapi ditulis kok sumbernya dari mana 😀

Cerita Waktu

Standard

Time flies.
Sudah sekian bulan lamanya banyak cerita yang tak sempat terlukiskan disini akibat ragam alasan yang kesemuanya berhulu pada satu masalah: “waktu senggang

Damn.
Memang kalau ditanya apa yang paling berharga dalam hidup, saya yakin salah satunya adalah “waktu”.
Pernah satu ketika mendapati satu quote yang berkata: the most precious gift for your love one is time, because you can never turn it back
Betul kan?

So what’s the story?
Almost 6 months diving in a new world called multi national company?
Yea, finally, an mnc ya? Is that the object of my goal?
Uhm, not really, but since I’m opened to all new experiences, then why not?
Hasilnya?…. Kelojotan *ngikik geli*
But at least, I have good credit as a good fast-learner here 😀 *bangga*
Cuma yang gak nahannya: keputusan untuk pindah lokasi kantor, awal taun ini.
Walau lokasi yang baru lebih ke selatan dan sebelahan sama mol yang udah tiga babak aja ya tuh mol, tapi tetep aja itu lokasinya bukan lokasi favorit semua umat manusia, kecuali mereka yang domisilinya di daerah selatan Jakarte. Daan aksesnya itu loh yang kurang bervariasi, bikin klo stuck kena macet ya cuma bisa berdoa dan enjoy the traffic aja lah yaaa *cengir pasrah*
But anyway it’s not the biggest issue lah yaa. Klo gak memungkinkan yaa, selalu ada jalan keluar kok. Biasanya sih papannya warna ijo gitu *lho?*

Lalu cerita lain?
Hmm, 5 months living in a studio room and keep it a secret to the co-workers for I don’t want to work overtime everyday and not get paid…?
Yea, that’s too.
Setelah melewati bulan-bulan pertama dengan pulang tengah malem dan berangkat kelar adzan Subuh, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk kos. Ambruk juga ya boow.
Byebye lah rencana nabung setengah gaji bwt kluyuran traveling, hihi. Gak apalah yaa, yang penting bisa kluyuran enjoying me and my husband quality times tiap abis kantor, dan gak perlu berangkat barengan tukang sayur lagi hmm…
Lalu kenapa gak mw bilang-bilang sama orang sekantor? Adalah karena saya tidak ingin sisi loyalitas saya yang termasuk diatas rata-rata ini dimanfaatkan dan diexploitasi semena-mena oleh mereka yang berjiwa kolonialism ituuuh. Sudah cukup sepertinya kehadiran 2 jam lebih awal dari jam masuk, setiap hari dan tak perlulah ditambah dengan 2-3 jam tambahan setelah bel pulang, kecuali masa-masa genting payroll ya dharleengs *kibas rambut*
Selebihnya? Saya hanya ingin menikmati quality times with my love one yaa 😀

But anyway, despites all the dramas happen in my life lately, I still have good sneaking times in experiencing good tastes, good views, and also good vibes every once in a while.

So no matter how frantic your life is, it’s pretty wise to enjoy every single minute you pass by.
For it can never be turned back.
Right?

 

Cheers to time!

INTERMEZZO: saat mood menguap habis tersedot waktu

Standard

Baiklaah, janji rajin mendongeng, ternyata hanya kibasan tangan semata ye booww *tundukmalu*

Beginilah kalau mendongeng dilandasi dengan mood. Begitu mood kecentok, langsung pundung, susah baekannya, musti dikasih liburan dulu, baru nyengir *lhooo*

Diawali dengan keribetan penutupan dan pengalihan kantor di bulan april-mei, lalu hirukpikuk homeworking di bulan juni, positif mengajukan pengunduran diri di awal juli (akhirnyaaaaaa *legaaa*), daaaan ditutup dengan “gak-kerja-tapi-kok-banyak-acara-sanasini-yaaa” selama bulan puasa kemaren, bikin mood mendongeng pun pudar. Alhamdulillaaaah, semua udah kelar dan menyisakan sebentuk senyuman lebar dan hati yang melapang, tapi tetep bukan waktu yang melapang untuk mendongeng yee.

Eniweei, mari kita sudahi curhatan ini, lalu mari kita lanjutkan perbanyak arsip dongeng, biar bisa dijadwalkan pem-postingannya, mumpung mood lagi bagus-bagusnya. Hyuuukk..

Tunggu dongeng-dongeng ter-update selanjutnya yaaah (note: tapi teuteeeup musti sabar menanti 😀 )

 

Cheers!!!

Kampung Sampireun Garut – A Hidden Treasure for The Honeyz

Standard

(baca cerita sebelumnya dulu ya)

Waktu memutuskan untuk mengambil paket hanimun di Kampung Sampireun, saya dan suami sama-sama buta tentang tempat yang satu ini. Jangankan tempatnya, kota Garut aja seperti apa saya tidak pernah tahu. Paling banter, saya hanya melewatinya saat perjalanan ke Jawa lewat Nagrek, e tapi itu kan udah berlalu dari sejak saya masih piyik yaaa.

Alhasil, berbekal print peta dari situs Kampung Sampireun, patokan kami menuju Kampung Sampireun hanya: pokoknya sampe Garut dulu deh, baru cari papan petunjuknya. Toh kalo bingung-bingung ya tinggal telpon aja minta dijemput yak, susah bener 😀

Dan ternyatah sodara-sodara, Garut tidaklah serumit Bandung. Yang lebih menyenangkan lagi, papan penunjuk arah menuju Kampung Sampireun pun banyak ditemukan, jadi yaa otomatis peta yang sejak sampai persimpangan Nagrek saya pegangin terus itu, gak banyak gunanya lah 😀

Resort ini terletak di kaki gunung… (apa ya namanya? *lupaak :D), jadi ya otomatis perjalanan menuju resort ini berkelok dan menanjak terus dan terus, dan yak jalanannya juga bukan aspal semulus jalanan di Puncak Bogor ya. Kiri-kanannya pun kebanyakan kebun sayur, diselingi sawah, dan tanah kapur. Tapi memang untuk kami yang sehari-hari dikasih lihat kebon pencakar langit, melihat yang kayak gini dilatarbelakangi deretan perbukitan itu kok ya rasanya adyeeem gimanaa gitu ya (norak kali yee 😛 ).

Resort Kampung Sampireun ini berada di sisi kiri jalan. Kami harus masuk sekian meter menuju pos penjagaan terlebih dahulu, baru deh meluncur ke lobi resort yang berada agak ke bawah jalanan.

Welcome to Kampung Sampireun :)

Wilujeng Sumping sadayana 🙂

Lobi resort ini mengambil konsep terbuka, berbentuk semacam joglo Sunda dengan pilar-pilar kayu yang tinggi. Atapnya pun menggunakan jerami kering. Yang saya suka adalah view lobby ini yang langsung mengarah pada sekumpulan rumah-rumah kayu kecil di atas danau buatan yang dilatarbelakangi oleh hutan pinus kecil.

Gak tau ya, tapi buat saya pribadi, mendadak saya seperti ditarik menjauhi hingar bingar kota besar yang ruwet dan kelima indera saya dimanja dengan segala hal yang berbau pedesaan. Mulai dari gemericik air danau, kecipak pelan rombongan ikan yang berebut serangga yang jatuh di tengah danau, suara retnong (orong-orong) yang teriak menderik-derik di kejauhan, wangi segar kayu pohon dan tanah lembab, sampai sayup-sayup degung Sunda yang menari di telinga.
Buat saya pribadi, that was a kick to start a relaxation journey.

Berbekal printout voucher dari Weddingku, ternyata selain mendapatkan paket yang saya ceritakan sebelumnya disini, ternyata kami juga mendapatkan: photo set hanimun di kitaran danau. Aih maaak!! Tau gitu kan saya bawa kostum banyak 😀 (kayak yang punya aja kostum 😛 )
Photo set ini dijadwalkan keesokan paginya, supaya pencahayaannya bagus, gitu kata petugas resepsionisnya. Saya sih manggut-manggut aja.

Oiya, setelah cek in, ternyata kami gak langsung dipersilakan ke kamar/villa, tapi diminta menanti tukang kayuh sampan. Hee?? Jadi ternyata, oleh pihak resort, setiap tamunya diarahkan untuk menuju kamar/villanya dengan menjelajahi danau buatan dulu. Nice…

siap-siap mengarungi danau sampireun

siap-siap mengarungi danau sampireun

Duduk-duduk di lobi menunggu kedatangan Pengayuh Sampan, kami menikmati semilir angin yang membelai lembut sambil nyemil rangginang dan membasuh kerongkongan dengan segelas bajigur sebagai welcoming drink and snack itu rasanya refreshing bener deh.

Dan setelah kami berada di sampan, menikmati penjelajahan singkat danau sampireun, kami baru menyadari kalau ada sebuah saung panjang yang ditambatkan di tengah-tengah danau. Menurut Pak Pengayuh Sampan, di saung itu biasanya CandleLight dinner diadakan. Ihiiy, romantisnyooo… (bae-bae kecemplung yaa 😛 ) Tapi gara-gara melihat kondisi setting candlelight dinner itu, saya jadi mikir dua kali untuk mengenakan dress pendek, gak cucok yo 😀

bersampan dilatarbelakangi saung candlelite :D

bersampan dilatarbelakangi saung candlelite 😀

Resort ini ternyata tidak hanya berisi villa berkonsep one bedroom villa yang berbaris rapi mengelilingi danau, tapi juga ada beberapa villa besar berisi banyak kamar untuk keluarga yang terdapat sedikit ke dalam hutan buatan. Kabarnya, resort ini dimiliki oleh 5 orang pengusaha Indonesia, tapi gak tau ya apa masih atau tidak. Luasan resort ini sebenarnya tidak seluas resort yang memiliki lapangan golf, mungkin sekitar 4 hektar ya, tapi entah bagaimana, landscape designernya mampu menyulap tanah berbukit ini terlihat luas dan alami.

Perjalanan singkat menjelajahi danau itu berakhir di sebuah villa di pinggir danau, kalapalua 109, yang jadi tempat peristirahatan (tadinya mau nulis memadu kasih, tapi kok geli banget yaa 😀 ) kami. Bangunan villanya memang berkonsep alami, menggunakan perpaduan dinding beton dan bilik dengan lantai kayu, beratapkan jerami kering. Untungnya, maintenance resort cukup baik, sehingga tidak tercium aroma lapuk yang biasanya menghantui bangunan yang menggunakan material kayu/bilik seperti itu.

Saat kami sampai, one bedroom villa itu sudah disetting menjadi honeymoon villa, jadi selain ada sekeranjang kecil welcome fruit (yang ternyata welcome fruit ini selalu disediakan setiap pagi. Pokoknya, kami pulang bawa oleh2 buah 2 keranjang aja :P), sepaket bingkisan, pleeus juga bunga-bungaan di atas tempat tidur (four poster bed) *nyengir geli*.

Dan yang lebih hieets lagi adalah… kamar mandinya. Outdoor boow!! Idiih, kebayang deh, berendem malem-malem sambil mandangin bulan purnama? Cantiknyaaa… (ini beneran, karena pas kami kesitu, paaas lagi bulan purnamaaaaaa, *joged girang* )

Berhubung kami sampai pas waktu makan siang, naga-naga dalam perut otomatis udah demo besar-besaran, ngalahin demo buruh nuntut kenaikan gaji dah. Lalu tanpa ba bi bu kami pun langsung konfirmasi untuk minta jatah makan siang di restoran resort, Seruling Bambu. Kesananya gimana? Ya jalan kaki aja. Ternyata, jalur dari dan menuju villa itu tidak harus melalui danau, tapi juga bisa dilakukan dengan menyusuri jalan setapak yang terletak di sisi lain villa. Jalan setapak ini mengitari danau juga, jadi gak usah bingung harus mengayuh sampan sendiri. Daripada kecemplung ke danau kaaan?? 😀

Oiya, berhubung di danau ini dihuni oleh ratusan ikan mas yang besar-besar, serunya, pihak resort sengaja menyediakan satu spot khusus di sisi danau dekat lobi yang dinamai “dermaga utama” dimana ada beranda terbuka khusus tempat kita bisa berfoto dengan latar belakang jejeran villa, daaan bermain-main bersama gerombolan ikan-ikan. Seruuuu. Bisa ngasih makan ikan pula.

girang bener neng :D

girang bener neng 😀

Restoran resort tempat kami bersantap siang, terletak di jantung hutan pinus. Landscapes hutan pinus resort ini menyenangkan sekali. Ada mata air kecil yang membelahnya dan mengalir menuju danau. Di beberapa spot mata airnya, dipasang bambu-bambuan yang bisa dipakai untuk membasahi kaki atau tangan. Dingiiiiiinnnn deh airnya *ketauan noraknya. Iyalah air gunung mah dingin atuh, neng!!* 😀

airnya dingin bangeet :D

airnya dingin bangeet 😀

Di restoran ini juga tempat kami menikmati sarapan pagi tiap hari. Walau bisa dianter ke kamar, tapi kami lebih suka menikmati sarapan di tengah hutan gitu. Merasakan hangatnya sinar matahari pagi yang  menembus dedaunan, gericik mata air, nyanyian burung yang bersautan dan yang lebih menambah kesan hutan adalah suara jeritan retnong (orong-orong) yang mungkin mengganggu, tapi ternyata mengasyikkan. Gak tiap hari kan dapet suasana sarapan kayak gitu?? Saya sih suka yang gitu yak 😀

Restoran Seruling Bambu ini terbagi jadi dua bagian tempat, di bangunan utama, dan di saung-saung yang tersebar di bagian belakangnya. Untuk makan siang, kami sepakat menikmati di saung-saungan, biar lebih terasa aura ‘sundaan’nya. Sementara untuk sarapan, kami selalu memilih tempat di teras atas bangunan utama, biar lebih… romantis. Aih maak!! *tepok jidat*

Oiya, sebagai catatan penting ya, jangan takut dengan porsi kecil atau kurang kenyang bila Anda memesan paket hanimun, karena menu makan siang yang disediakan itu terdiri dari 2 appetizer, 2 maincourse, 2 dessert, 2 minum juga, yang bebas Anda pilih sesuka hati. Sumpahlah saya dan suami sampe bego gitu kekenyangan 😀

Pun halnya dengan sarapan. Kalo suami selalu dengan pilihan Continental atau American Breakfast, kalo saya menyelingi yang bule-bulean dengan Indonesian, seimbang ya? Walau bukan buffet breakfast, tapi kami senang menghabiskan waktu cukup lama untuk sarapan saja disini. Selain karena memang suka dengan setting tempatnya, juga karena porsinya yang melimpah. Kayak gak abis-abis deh roti-roti itu dicemilin berdua 😀

sarapan yang udah abis setengahnya :D

sarapan yang udah abis setengahnya 😀

Di lokasi hutan pinus ini, selain ada restoran Seruling Bambu, terdapat juga villa/cottages yang memiliki kamar dengan jumlah banyak, untuk mengakomodir liburan keluarga besar, café dan juga sebuah warung. Warung? Iya, seperti warung kopi di kampung-kampung gitu. Lucuuuk deh.

Oiya, menjelang sore, di resort ini juga menyajikan sajian seru yang cukup menghibur yaitu Calung, semacam kesenian khas Sunda, yang diadakan di dermaga utama. Seru. Bisa ditonton dari beranda kamar yang menghadap danau, sambil menikmati afternoon snack serabi dan kopi/teh yang selalu diantarkan ke kamar kami dengan sampan. Psst, afternoon snack ini gratis loh.

di dermaga cinta #eeh dermaga utamaaaa :P

di dermaga cinta #eeh dermaga utamaaaa 😛

Kalo soal suplai makanan, kayaknya ini resort emang musti diacungin jempol. Pasalnya, ditengah kebengongan kami malam-malam gara-gara perut yang kelaperan, mendadak ada ketukan di pintu, ternyata ada mas-mas nganterin sekoteng dan kue-kue. Yak ampyuuun…. Tau aja dia kalo kami kelaperan 😀

So far sih, kalau boleh saya bilang, pilihan ber-hanimun di kampung sampireun waktu itu memang jadi pilihan tepat buat kami, selain suasananya yang memang didisain sedemikian rupa sehingga mendukung keromantisan yang dibutuhkan dalam ber-hanimun ria, staf resort sendiri juga ramah dan benar-benar menjaga ke-private-an kami, sehingga walau judulnya resort, kami tetap berasa berada di rumah sendiri. Yuk mareee, ini sih lebay skali ya, rumah sendiri seluas 4 hektar dilengkapi danau dan taman spa??? Hyuuk ngayaall!! 😀

Mungkin waktu dulu, satu-satunya kekurangan yang kami rasakan di resort itu hanya…… gak ada tivi bow di kamar. Sampai suami harus merelakan ponselnya berubah fungsi jadi mp3player tiap malem, demi memuaskan kebutuhan kami atas sebuah hiburan 😀

Tapi itu kan taon 2011 lalu ya, mungkin kalo sekarang sih, udah ada tivi-nya. Well, at least lumayanlah mengisi kebengongan di kamar. Kan gak mungkin dong bengongnya diisi dengan ngitungin ikan di danau, jereng-jereng dah mata ntar 😛

Jadi, buat yang mau berhanimun-hanimun ria dan masih bingung kemana kira-kira tujuan yang asoy, tapi kepentok budget, maupun waktu cuti yang singkat dan pengen yang romantiis tis tiiissss, gak ada salahnya sih mempertimbangkan Kampung Sampireun ini. A trully hidden treasure for the honeyz lah. Yang pasti, selain romantisnya dapet banget, perut pun terjamin lah kepuasannya *ngikikngikik*

Eh, tunggu duluuu, bagaimana dengan spa-nya, kan sebelumnya dibilang ada spa Taman Sari Royal Heritage ya. Uhmm, ceritain gak yaaaa……. *khikhikhik*

sampan cinta :D

sampan cinta 😀

Cheers!!!