Kencan Bebek di Bogor

Standard

Saya memang pecinta kuliner bebek. Dimasak apa aja, pasti dilahap sampai tuntas tak bersisa. Menurut saya, pengolahan bebek itu punya seni tersendiri, dikarenakan tekstur dan karakter daging bebek yang sedikit lebih liat dan amis ketimbang teman sebangsa unggas lainnya, katakan saja, ayam.

Kekurangan bumbu, membuat jejak amis bebek terendus. Kelebihan bumbu, malah membuat rasa orisinalitas si daging bebek itu tertutupi. Kurang lama mengungkep, bisa membuat daging alot dan meninggalkan sisa hiasan di sela gigi. Tapi kalau kelamaan diungkep juga bisa membuat daging terasa ‘sepo’. Susah-susah gampang memang mengolahnya ya.

Inilah yang bikin saya jadi suka berpetualang nyicipin kuliner bebek. Nyari tempat makan yang gak cuma jago ngolah bebek, tapi juga punya karakter rasa.

Lucunya, suami juga gemar dengan kuliner bebek ini dan selalu semangat ’45 tiap kali saya ajak untuk berpetualang icip-icip kuliner bebek. Dulu sejak jaman pacaran, restoran dengan menu bebek menjadi pilihan kami untuk menghabiskan waktu kencan. Dan setelah kami menikah, kebiasaan mencicipi sajian bebek pun masih tetap jadi pilihan utama berkencan (udah nikah juga masih harus sering-sering kencan kaan? :D)

Iseng-iseng, saya coba merunut-runut resto bebek apa aja yang sudah pernah kami sambangi, khususnya di kota Bogor. Kenapa Bogor?? Well, karena saya kebetulan lahir, besar dan sampai sekarang pun masih tinggal di Bogor, maka ya most of the restaurants are in… Bogor lah ya :D

Tapi sori to say, dikarenakan saya bukanlah Foodblogger sejati maupun demen twitpik smua sajian yang masuk ke perut saya, jadi terpaksa tanpa poto yaa. Well, moga-moga biarpun cuma lewat tulisan, tetep menggelitik selera yaa.

Kita mulai aja hyuuukk…

 

1.    AYAM GEPUK & KAMPUNG BEBEK “ECO RAOS”

Resto yang terletak cukup tersembunyi dari pusat kota Bogor yang hingar bingar ini menjadi tambatan pertama petualangan kencan bebek kami, karena dulu jaman awal-awal pacaran, belum ada bebek-bebek goreng merk ‘mainstream’ terkenal berinvasi ke Bogor.

Kesan pertama dari restoran ini adalah homy (ati-ati bacanya, gak ada hurup ‘r’ sama ‘n’ loh :D) baik dari segi pemilihan tempat maupun dari segi masakan. Memang yang terkenal dari restoran ini adalah si ayam gepuknya. Namun semenjak kuliner bebek melejit, restoran ini pun menyediakan masakan berbahan dasar bebek. Bebek gepuk, bebek bakar, dan bebek cabe ijo adalah sebagian dari menu bebek yang saya ingat. Maklum, udah lama banget tidak menyambangi tempat ini lagi.

Nah, dulu saya paling suka dengan bebek cabe ijo di restoran ini. Karena bebek cabe ijonya tidak seperti bebek cabe ijo generik yang umum disajikan di resto-resto bebek lainnya. Disini, bebek cabe ijonya lebih seperti masakan itiak lado mudo hanya saja dalam versi yang lebih sederhana rempah-rempahnya.
Jadi, si bebek dimasak dengan ramuan bumbu halus yang kira-kira terdiri dari cabe ijo, bawang merah, bawang putih dan tomat hijau. Bumbunya memang mild, tapi gurihnya meresap sempurna sampai ke tulang yang enak bener diseuseup-seuseup. Pedas, gurih, segar. Hmmm, enak deh. Daging bebeknya pun empuk, walau tidak sampai level ‘mrotoli’ dari tulangnya, tetap butuh perjuangan. Perjuangan sepadan sih kalau menurut saya :D

Cocoklah jadi pilihan kala bosan dengan resep generik bebek goreng yang disiram sambal ijo, lalu jadi deh bebek cabe ijo.

Tapi, saya cukup terkejut saat kembali lagi ke resto ini tahun lalu, karena ternyata, penampilan bebek cabe ijo favorit saya ini dirombak total menjadi bebek cabe ijo resep generik resto bebek pada umumnya. Bebek diungkep, digoreng, lalu disiram sambal cabe ijo yang pedas sangat.

Hiks :’( I want the former recipe of ‘bebek cabe ijo’ here

 

2.       BEBEK GORENG & SAMBAL KOREK H. SLAMET, BOGOR

Untuk bebek goreng versi ‘mainstream’ merk terkenal, Pak Slamet ini adalah pelopornya untuk buka gerai di Bogor. Letaknya pun pada saat itu di lokasi yang bisa dibilang strategis dengan keramaian, yaitu di bundaran Air Mancur, yang mana dimana, lokasi itu kalo udah malem minggu, ramenya kayak pasar malem tumpah ke jalan.

Kayaknya sih, gak perlulah di-review masakan Pak Slamet ini ya? Secara gerainya sekarang ini sudah merambah ke banyak tempat, dan so pasti semua orang udah pernah deh ngicipin bebek gorengnya yang melehendarhiss itu (lebaay). Pokoknya disini adalah tempat bersarangnya bebek goreng garing dan sambal korek yang pedesnya anjis gila itu.

Enak. Gurih. Sebagaimana bebek goreng pada umumnya, hanya saja memang di Pak Slamet ini, bebeknya bisa empuk tanpa membuat dagingnya ‘sepo’, nyopotin dagingnya juga gak susah. Disajikan dengan daun pepaya rebus, timun dan tomat segar. Jangan sinis dulu dengan sajian sambal koreknya yang porsinya kecil, karena biar kecil, ternyata sambalnya bisa bikin nangis saking pedes lah.

Sekarang, Pak Slamet tak lagi bercokol di Air Mancur, tapi pindah ke Jalan Bangbarung, persis bersebelahan dengan warung Bakso Seuseupan. Kenapa pindah? Saya juga gak tau sih, mungkin karena parkiran di tempat terdahulu kurang memadai, atau karena kehadiran saingannya yang cuma beda sekian langkah dari Pak Slamet? Siapakah saingannya itu? Hmm…

 

3.       BEBEK DUBES – Jl Siliwangi Bogor

Emang saya gak bisa deh kalo liat plang tulisan “Bebek” lalu gak merengek-rengek minta mampir nyicip makan di tempat itu sama suami. Termasuk juga dengan saat saya melihat plang bebek dubes ini di daerah Siliwangi Bogor. Sampe bosen sepertinya suami diteriakin kupingnya dengan rengekan, “makan bebek situ yuk yuk yuuukkk…” ulang kali, dan akhirnya suatu siang di akhir tahun 2012 lalu, rengekan saya pun dituruti. Horeee!!!

Rumah makan yang tergolong baru ini, terletak di jalan siliwangi bogor. Kalo dari Suryakencana, setelah gang Aut yang hieets dengan jajanan super bekennya itu, lurus saja. Nanti tidak jauh dari situ, di sebelah kanan, ada plang BEBEK DUBES besar warna merah keoranyean.

Saat kami datang, masih jam 11 siang, belum waktunya makan siang, tapi siapa sih yang peduli waktu kalo judulnya makan bebek? *Cuma saya kayaknya yee* :D

Anyway, rumah makannya tidak besar, tapi cukup nyaman. Terdiri dari deretan bangku-meja kayu panjang yang bersih, di bagian teras dan di dalam ruangan. Hmm… tempat makan yang bersih selalu punya nilai plus di mata saya. Anda juga kan pastinya?

Sebagai bekal rekomendasi dari jejaring sosial, saya dan suami memesan bebek selimut ijo. Tapi menu disini gak cuma itu saja, ada bebek selimut merah, goreng gurih dan panggang madu. Buat yang tidak suka bebek, tak perlu gundah gulana, karena juga disediakan sajian menu dari ayam kampung dengan resep serupa. Minumnya? Es teh manis laah :D

Oiya, dengan seharga 19ribu, udah dapet nasi plus timun juga. Hmm, lumayan ya dari segi harga.

Kalau dari rasa?
Well, kecapan pertama di lidah saya adalah gurih dengan sedikiiit semburat manis dari rasa daging bebeknya. Well seasoned I supposed. Dagingnya sendiri dalam level empuk, tapi tidak mrotoli dari tulang. Masih cukup juicy, tidak sepo dan gak amis. Rasa sambel ijonya cukup pedas tapi tidak segahar kaleyo memang, masih dalam tahap manusiawi lah.

Lalu bagaimana jadinya?
Hmm, sejujurnya, kalo bagi saya sih, bebek selimut ijo di bebek dubes ini enak, tapi tidak terlalu istimewa. Mungkin kalau boleh bilang sih, bebek goreng sambel ijo generik tapi tempatnya enak. Sesekali bolehlah dimampirin lagi. Mungkin harus nyoba bebek panggang madunya, yang bukan sajian sejuta resto bebek itu :D

 

4.       BEBEK & AYAM GORENG PAK NDUT  BOGOR

Ini dia saingannya Pak Slamet dalam hal perbebekan. Sama-sama dari Kartosuro, dan lucunya, di Bogor ini si Pak Ndut entah disengaja ato tidak, milih lokasinya hanya sekian langkah dari Pak Slamet (sebelum akhirnya Pak Slamet hengkang ke daerah lain :D)

Karena waktu itu parkiran Pak Slamet penuhnya minta dipecahin satu-satu ban mobilnya, alhasil kami pun melipir lebih jauh sedikit ke rumahnya Pak Ndut. Saat itu rumah Pak Ndut ini memang baru buka sekitar 2 mingguan lah, masih dalam bulan promosinya. Tidak terlalu penuh pengunjungnya.

Selain meja-meja makan di dalam rumah, ada juga sekitar 4 saung di halaman depan. Kami memilih lesehan di saung, karena malam itu cuaca cukup cerah dan agak gerah (hmm… berima ya :D)

Karena belum kenalan sama sajian bebek di rumahnya Pak Ndut ini, maka saya bertanya pada pelayan, menu apa yang jadi rekomendasi, jawabannya adalah bebek sangan sambal bakar. Saya bertanya lagi, apa istimewanya? Nah, menurut pelayannya, bebek sangan ini adalah bebek goreng yang tidak digoreng pake minyak (Lah? Terus pake apa dong? Pasir?) Jadi, setelah diungkep, bebek digoreng cukup setengah matang, lalu disangrai (atau disangan istilah jawanya) di atas wajan tanah liat, sampai hampir garing. Disajikan dengan sambal bakar. Hmm… menarik sih mendengarnya. Alhasil, saya pesan standar, bebek sambal ijo dan suami (saat itu masih pacar deng :D) pesan rekomendasi si pelayan, bebek sangan sambal bakar.

Saat pesanan datang, bebek-bebek kami disajikan dalam cobek kayu beralas daun pepaya rebus, dihiasi potongan timun dan tomat segar. Sama seperti penyajian di tetangganya, Pak Slamet, kan?

Bebek pesanan saya dituangi sambal cabe ijo diatasnya, sementara pesanan suami, disiram oleh sambal bakar yang wangiiii.

Penasaran, saya malah mencoba pesanan suami terlebih dulu. Lalu saya menyesal.

Ternyata bebek sangan ini saudara-saudara, ENAKnya keBANGETaaann!!!

Daging bebeknya ‘mrotoli’, empuk, tapi juicy, tidak kering. Kulit si bebek tidak tergoreng sampai kering kemrekes, tapi garing diluar dan juicy di lapisan bawahnya. Haiyaah!! Sebagai pecinta kulit bebek yang fat juice-nya melumer di mulut, saya langsung guling-guling kegirangan. Ada aroma khas dari bebek ini yang terendus hidung dan terkecap lidah, sepertinya karena faktor wajan tanah liat itu, jadi seperti diasapi. Rasanya unik. Atau kalau mencomot istilah suami saya, “berkarakter”. Benar kok.

Dan sambal bakarnya ini, terdiri dari cabe merah besar dan bawang putih + bawang merah yang dibakar dulu lalu diulek agak kasar, kemudian disangrai dengan potongan bawang daun dan daun kemangi, sehingga punya aroma yang khas. Rasanya gurih, pedaaaas dengan sedikit manis bawang. Enaaak!!

Bebek cabe ijonya juga enak sih, walau tidak sespektakuler bebek sangannya. Bebek gorengnya garing, namun tetap kulitnya berjuicy. Suka! Pedas cabe ijonya pun masih dalam taraf yang masuk akal, bukan setan jabrik yang bikin lidah mati rasa sehingga menghapus jejak rasa bebek. Jadi rasa si bebeknya masih bisa dinikmati. Rempah bumbu ungkepannya pun pas, tidak menutupi rasa dagingnya. Semuanya saling menyeimbangkan. Selaras sekata :D

Kalo saya bilang sih, Pak Ndut sukses mengolah bebek dengan ciri khas yang unik dan memunculkan sajian yang berkarakter kuat. Saking kuatnya, sampe kami ini secara subyektif menjadikan bebek sangan sambal bakar sebagai patokan kenikmatan sajian bebek.

So far, ini resto bebek yang paling sering kami datangi sejak buka di tahun 2010, paling enggak sebulan sekali deh pasti mlipir ke mari :D

Hayoo, siapa yang bisa nandingin?

 

Hwokelah, segitu dulu kencan bebek di Bogornya ya. Nanti disambung lagi kalo saya sudah selesai ngerekap resto-resto bebek di bogor atau kota lain yang sudah saya mampiri. Mungkin juga balik lagi ke resto bebek yang pernah disambangi nyicipin menu yang lainnya. Who knows? Bebek is always on the top of my list anyway :D

 

Cheers!!

One response »

  1. Emang bebek pak ndut enak cm ukuran bebeknya agak lbh slim drpd kaleyo harganya jg agak mahal mgkn kr harga kurang sesuai dg ukuran si bebek…. menurutqu begitu. Udh gt sambelnya ga free :(
    Kalau dibanding bebek kaleyo menurut mba enakan mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s